Kebersihan Jasmani dan Rohani dalam Islam


Kebersihan  Jasmani dan Rohani dalam Islam
                                                                     Oleh : Ali Wafa , SH
Masalah kebersihan bukan masalah  kecil dalam ajaran Islam, dalam hal ini Kebersihan itu mencakup dua perkara :
  1. Kebersihan Jasmani adalah kebersihan yang berkenaan kebersihan tubuh ( physic) 
dan  kebersihan  lingkungan secara internal ( Tempat tinggal , sekolah, dll. ) maupun secara external ( jalan raya, selokan, sungai , pantai , udara dan air ) yang diwujudkan pada kesadaran individu ( pribadi ) atau masyarakat ( public ) dalam mendapatkan kenyamanan  secara layak pada kehidupannya .
Menurut Prof .Dr. M. Aburrahman MA bahwa kebersihan merupakan salah pokok dalam memelihara kelangsungan eksistensinya, sehingga tidak ada satupun makhluk kecuali berusaha untuk membersihkan dirinya, walaupun makhluk tersebut dinilai kotor. Pembersihan diri tersebut, secara fisik misalnya, ada yang menggunakan air, tanah, air dan tanah. Bagi manusia membersihkan diri tersebut dengan tanah dan air tidak cukup, tetapi ditambah dengan menggunakan dedaunan pewangi, malahan pada zaman modern sekarang menggunakan sabun mandi, bahkan untuk pembersih wajah ada sabun khusus dan lain sebagainya. Pada manusia konsep kebersihan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga psikhis, sehingga dikenal istilah kebersihan jiwa, kebersihan hati, kebersihan spiritual dan lain sebagaianya.

Dalam Pandangan Islam  menetapkan berbagai macam peristilahan tentang kebersihan yaitu, thaharah, nazhafah, fitrah dan Tazkiyah .

Berkenaan dengan hal itu Allah Azza wa Jalla berfirman :
                                                                 فَطَهِّر  وَثِيَابَكَ
                                        Dan pakaianmu bersikanlah (QS.Al Muddatsir ayat . 4)
                                             إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
       Sesungguhnya Allah mencintai orang –orang yang bertaubat dan orang – orang 
        yang mermbersikan diri . ( QS. Al baqoroh ayat 222 )
   Dari shahabat Abu Hurairoh bahwa Rasulullah Shollahu alaihi wasallam bersabda
“Dari Abi Rofi’, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam berkeliling mengunjungi beberap istrinya (untuk menunakan hajatnya), maka beliau mandi setiap keluar dari rumah istri-istrinya. Maka Abu Rofi’ bertanya, ‘Ya, Rasulullah, tidakkah mandi sekali saja?’ Maka jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ini lebih suci dan lebih bersih.’” (Ibnu Majah dan Abu Daud, derajat haditsnya hasan)  Ayat dan Hadist diatas  menyuruh kepada kita merealisasikan kebersihan secara global baik bersih fisik maupun bersih spiritual . Sebagaimana disinggung al-Quran dan Sunnah banyak menggunakan istilah-istilah yang berkaitan dengan kebersihan atau kesucian. Dalam al-Quran ada istilah thaharah sebanyak 31 kata dan tazkiyah 59 kata. Dalam al-Quran istilah nazhafah, sementara dalam hadis kata nazhafah dapat kita lihat dalam riwayat bukan hadis, “al-Nazhafatu min al-Iman” walaupun hadis tersebut dipertanyakan  valid hadist ini.
Jadi kebersihan jasmani secara konkrit dalah kebersihan dari kotoran atau sesuatu yang dinilai kotor. Kotoran yang melekat pada badan, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya yang mengakibatkan seseorang tak nyaman dengan kotoran tersebut. Umpamanya, badan yang terkena tanah atau kotoran tertentu, maka dinilai kotor secara jasmaniah, tidak selamanya tidak suci. Jadi, ada perbedaan antara bersih dan suci. Mungkin ada orang yang tampak bersih, tetapi tak suci.

          2. Kebersihan Rohani adalah kebersihan secara spirirualitas yang ada pada diri  
  seseorang dari pola pikirnya, kesadarannya , sikap atau prilaku , jiwanya dan
  mentalnya tidak ternodai dari hal – hal yang dilarang oleh Ad – Dien ( Islam )
             baik secara Abstract ( Khafi- tersembunyi ) maupun secara Transparant ( Jali -     
             nyata ) yang akan menuju kesempurnaan individu / seseorang dalam menjalankan
agamanya.
Kebersihan Rohani  menurut Islam secara global ada 2 aspek :
      1.Kebersihan I’tiqad atau Akidah.
Kebersihan dalam aspek ini adalah yang paling utama, yaitu kebersihan aqidah dari syirik atau kekufuran. Jangan sampai aqidah kita tidak bersih, baik kepada Zat Allah, Sifat Allah, maupun perbuatan-Nya. Seringkali kita terjebak secara tidak sadar dalam hal-hal kecil, dimana jika tidak kita pahami secara i’tiqad maka hal-hal kecil itu dapat menjerumuskna kita kepada syirik khafi ( halus ). Misalnya kita sering mengatakan, secara tidak sadar : “ Ijazah inilah yang akan mengubah nasibmu”, “Obat ini yang telah menyembuhkan sakitku selama ini”, “Dokter telah memvonis bahwa hidupnya tinggal 6 bulan lagi”, “Air minum ini dapat menghilangkan hausmu”, ”Andaikan semalam mereka tidak lewat puncak, pasti mereka tidak akan mengalami kecelakaan maut itu”ini adalah Penyakit-penyakit hati yang berkaitan dengan masalah aqidah inilah yang pertama kali harus dibersihkan pada diri seseorang karena penyakit ini, seseorang tidak dapat membedakan yang haq dari yang bâthil, sunnah dari bid’ah, tauhid dari syirik. Atau kita sering bimbang dengan rizki kita, padahal selama kita masih hidup Allah telah menjamin rizki kita. Atau kita tidak yakin dengan ketentuan Allah, kita tidak redha dengan apa yang Allah telah tentukan kepada kita.Naudzubillah min dzalika waallahu musta’an .
2.      Kebersihan Jiwa ( Tazkiyah An- Nufus )
Tazkiyah An – Nufus adalah menurut bahasa berarti suci, berkembang dan bertambah. Sedangkan yang  dimaksud disini ialah memperbaiki jiwa dan mensucikannya melalui jalan ilmu ( Al- Qur’an dan Sunnah ) dalam menjaga dirinya tidak ternodai oleh kotoran – kotoran  jiwa seperti riya’, ujub, takabbur, sum’ah , bakhil, hasad ( dengki ) , malas, 
Boros, tamak dan penyakit hati – jiwa lainnya menuju kepada insal Kamil.
Tazkiyaun nufus merupakan salah satu hajat utama yang diminta Rasulullah.Dalam do'anya, Rasululah mengatakan:
Ya Allah berikanlah ketaqwaan kepada diriku ini dan sucikanlah ia, Engkau 
adalah sebaikbaik Dzat yang mensucikannya, Engkau adalah Penolong dan 
Tuannya. (HR Muslim. 2722).
Allah Azza Wa jallah berfirman :
                                     تَزَكَّى  فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ 
maka katakanlah: "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)"
Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ sebagaimana firman-Nya:
 “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasūl di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS al-Jumū’ah : 2)
Dari ayat di atas, para mufassirin menerangkan bahwa di antara tugas Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam kepada umatnya adalah:
1.      menyampaikan ayat-ayat Allôh
2.      membersihkan atau mensucikan jiwa mereka
3.      mengajarkan kitab dan sunnah kepada mereka.


Dosa dan kemaksiatan diibaratkan oleh Rasūlullâh Shallâllôhu ‘alaihi wa Sallam laksana noda-noda hitam yang akan memudarkan qolbu seorang mu’min yang jernih. Kalau tidak segera ditazkiyah dengan taubat kepada Allôh ia akan memekatkan dan menutup mati mata hati itu sendiri sehingga ia akan keras bagaikan batu bahkan bisa lebih keras dari itu (Lihat Al-Baqoroh 74). Dan tidak tertutup kemungkinan kemuliaannya sebagai seorang muslim akan hilang dan jatuh sampai kepada peringkat binatang (baca Al-A’râf 179).
Penutup dan Tausiyah
Terakhir kami berpesan pada pribadi kami juga kepada para pembaca yang budiman
A.Kebersihan diri adalah citra jiwa yang bersih sebagai manifestasi ketaqwaan  
   seseorang .
B. Awali proses Tazkiyah dengan muhâsabah (introspeksi diri), kemudian    murôqobah (merasa diawasi) yang ketat. Bila perlu lakukan mu’âqobah    (memberi sanksi pada diri) kalau ternyata ada di dalam diri yang berusaha mengurangi apalagi menghapuskan semangat mujâhadah dalam bertazkiyah.
C.     Awasi musuh-musuh eksternal (syaithân/thoghut) dan internal ( hawa nafsu)
D.    Jauhi sifat membual, pesimis, apatis, malas, riya’, sombong dan rendah diri karena itu adalah yang mengotori hati dan jiwa (An-Nafs) seseorang.
Semoga bermanfaat tulisan yang ringkas ini. Kita tutup dengan doa kepada Allôh :
اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها (رواه مسلم)
Ya Allôh anugerahkanlah ketakwaan pada jiwaku dan sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mensucikan dan Engkaulah pemiliknya dan penguasanya.”


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kewajiban Mengamalkan Sunnah

Translate

>