AMBISI MINTA JABATAN MEMBAWA KEHINAAN DI AKHERAT

 Oleh  ALI WAFA  ABU SULTHON




Ambisinya  seseorang terhadap jabatan menutupi akal sehatnya bahkan meredupkan keimanannya kepada Allah Azza wa jalla dimana banyak orang  mengejar jabatan dengan cara-cara yang diharamkan agama, seperti suap, menzhalimi kompetitornya, membohongi rakyatnya atau yang lainnya. Sangat mungkin mereka yang melakukannya mengetahui betul bahwa itu semua diharamkan dan dilarang oleh agama. Lalu mengapa mereka tetap melakukannya? Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah Maha Melihat? Apakah mereka tidak meyakini bahwa kelak mereka akan ditanya oleh Allah azza wa jalla? Ironis dan menyedihkan .
Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam  tidaklah memberikan jabatan kepada orang-orang yang memintanya karena itu adalah tanda ambisiusnya, yang kebanyakan nafsunya melebihi kemampuannya . Al Hafizh Ibnu hajar mengatakan bahwa orang  yang meminta jabatan dan diberikan kepadanya maka dia tidak akan dibantu dikarenakan ambisinya. Arti dari itu adalah bahwa meminta apa-apa yang berkaitan dengan hukum adalah makruh, termasuk didalam imaroh adalah hakim, pengawas dan lainnya. Dan bahwasanya siapa yang berambisi dengan hal itu tidaklah akan dibantu.
Selanjutnya Al Hafizh mengutip hadits Abi Musa,”Sesungguhnya kami tidaklah mengangkat pemimpin dari orang yang ambisi” karena itu selanjutnya beliau mengungkapkan kata “pertolongan”. Maka sesungguhnya siapa yang tidak mendapatkan pertolongan dari Allah didalam amalnya maka amal itu tidaklah cukup oleh karena itu tidak sepatutnya menyambut permintaannya. Sebagaimana diketahui bahwa kepemimpinan tidaklah kosong dari kesulitan. Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan pertolongan maka ia akan mendapat kesulitan dan kerugian di dunia dan akherat. Dan barangsiapa yang memiliki akal maka ia tidaklah bersikeras untuk memintanya akan tetapi jika ia memiliki kemampuan dan diberikan tanpa memintanya maka sungguh Rasulullah Shollallahnalaihi wasallam  menjanjikan pertolongan-Nya dan didalamnya terdapat keutamaan.
Dari Sahabat Abu Dzar Al Ghifari radliallahu ‘anhu. Ia berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaanku tersebut, beliau menepuk pundakku seraya bersabda:
“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR. Muslim no. 1825)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah, dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim.” (HR. Muslim no. 1826)
Al-Imam Nawawi rahimahullah membawakan kedua hadits Abu Dzar di atas dalam kitab beliau Riyadlus Shalihin, bab “Larangan meminta jabatan kepemimpinan dan memilih untuk meninggalkan jabatan tersebut jika ia tidak pantas untuk memegangnya atau meninggalkan ambisi terhadap jabatan”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan kepada Abdurrahman bin Samurah :
يَا عَبْدَ الرَّحْمنِ بن سَمُرَةَ لاَ تَسْألِ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَها عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأََلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْها
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).”
Hadits ini diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 7146 dengan judul “Siapa yang tidak meminta jabatan, Allah akan menolongnya dalam menjalankan tugasnya” dan no. 7147 dengan judul “Siapa yang minta jabatan, akan diserahkan padanya (dengan tidak mendapat pertolongan dari Allah dalam menunaikan tugasnya)”.
Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 1652 yang diberi judul oleh Al-Imam An-Nawawi “Bab Larangan meminta jabatan dan berambisi untuk mendapatkannya”.
(dalam Penjelasan Sahih Muslim, jilid 12, halaman 210)
Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah: “Seseorang yang meminta jabatan seringnya bertujuan untuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, menguasai mereka, memerintahkannya dan melarangnya. Tentunya tujuan yang demikian ini jelek adanya. Maka sebagai balasannya, ia tidak akan mendapatkan bahagiannya di akhirat. Oleh karena itu dilarang seseorang untuk meminta jabatan.” (Syarh Riyadlus Shalihin, 2/469)
Berkata Al Muhallab sebagaimana dinukilkan dalam Fathul Bari (13/135): “Ambisi untuk memperoleh jabatan kepemimpinan merupakan faktor yang mendorong manusia untuk saling membunuh. Hingga tertumpahlah darah, dirampasnya harta, dihalalkannya kemaluan-kemaluan wanita (yang mana itu semuanya sebenarnya diharamkan oleh Allah) dan karenanya terjadi kerusakan yang besar di permukaan bumi.”
Seseorang yang menjadi penguasa dengan tujuan seperti di atas, tidak akan mendapatkan bagiannya nanti di akhirat kecuali siksa dan adzab. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi dan tidak pula membuat kerusakan. Dan akhir yang baik itu hanya untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashshash: 83)
Al-Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan: “Allah ta`ala mengabarkan bahwasanya negeri akhirat dan kenikmatannya yang kekal yang tidak akan pernah lenyap dan musnah, disediakan-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, yang tawadhu` (merendahkan diri), tidak ingin merasa tinggi di muka bumi yakni tidak menyombongkan diri di hadapan hamba-hamba Allah yang lain, tidak merasa besar, tidak bertindak sewenang-wenang, tidak lalim, dan tidak membuat kerusakan di tengah mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/412)

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah: “Makna ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Dzar adalah beliau melarang Abu Dzar menjadi seorang pemimpin karena ia memiliki sifat lemah, sementara kepemimpinan membutuhkan seorang yang kuat lagi terpercaya. Kuat dari sisi ia punya kekuasaan dan perkataan yang didengar/ ditaati, tidak lemah di hadapan manusia. Karena apabila manusia menganggap lemah seseorang, maka tidak tersisa kehormatan baginya di sisi mereka, dan akan berani kepadanya orang yang paling dungu sekalipun, sehingga jadilah ia tidak teranggap sedikitpun. Akan tetapi apabila seseorang itu kuat, dia dapat menunaikan hak Allah, tidak melampaui batasan-batasan-Nya, dan punya kekuasaan. Maka inilah sosok pemimpin yang hakiki.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/472)
Memang jabatan adalah sesuatu yang sangat menggiurkan setiap manusia. Karena disitulah terdapat kamasyhuran, ketenaran, kehormatan dan kemapanan sosial ekonomi. Karena itu wajarlah ketika Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa tidaklah dua ekor srigala lapar yang dilepas kepada kerumunan kambing lebih merusak agama daripada ambisi seseorang terhadap harta dan jabatan.” (HR. Tirmidzi) dan Tirmidzi mengatakan,”ini adalah hadits hasan shahih)

Berbeda dengan kisah Nabi Yusuf Alaihissalam  sebagaimana penjelasan Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani tentang Kisah Nabi Yusuf  dimana Orang yang berdalil dengan kisah masuknya Nabi Yusuf dalam siyasah (pemerintahan) telah tenggelam dalam kesalahan. Yaitu ketika beliau mengatakan:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Berkata Yusuf “Jadikanlah aku bendaharawan negara Mesir sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan"..” (Yusuf: 55)
Padahal beliau tidak memasuki tugas ini kecuali setelah mendapatkan persaksian dari Allah  Azza wa jalla. Tertulis pada persaksian tersebut:
“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi sangat berpengetahuan.” (Yusuf: 55)
Ahli balaghah (sastra Arab) dapat membedakan antara kata الْحَافِظُ (yang berarti menjaga) dengan kata الْحَفِيظُ (yang sangat pandai menjaga), juga antara kata الْعَالِمُ(yang berilmu) dengan kata الْعَلِيمُ (yang sangat berpengetahuan). Maka perhatikan hal ini, karena sesungguhnya ini termasuk rahasia-rahasia Al-Qur`an yang penuh hikmah.
Sebagaimana diherankan dari yang lain juga, yang membolehkan diri mereka menerima jabatan politik masa ini –bersamaan dengan apa yang ada di dalamnya berupa sistem parlemen kafir atau jahat– berdalil dengan perbuatan Nabi Yusuf alaihissalam, sembari melalaikan bahwa Nabi Yusuf alaihissalam tidak memintanya. Namun raja itulah yang menawarkannya kepada beliau. Beliau alaihissalam juga tidak menerimanya melainkan ketika raja tersebut menjamin keamanan dan kebebasan baginya. Sehingga tidak ada tekanan, atau ancaman, atau mengorbankan agama, atau tarik ulur, atau tawar menawar, atau adu argumentasi. Oleh karena itu, perhatikan urutannya dalam firman Allah Azza wa Jalla:
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi sangat berpengetahuan’.” (Yusuf: 54-55)
وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.( Yusuf – 56 )
Bila kita mengalah (pada anggapan mereka yakni beliau minta jabatan, pen) maka kamipun akan mengatakan sebagaimana yang dinyatakan ulama ushul fiqih, ‘syariat umat sebelum kita bukanlah syariat bagi kita pada perkara yang menyelisihi syariat kita’. Padahal di sini syariat kita menyelisihinya, karena kita dilarang untuk minta jabatan. Seperti dalam hadits Abdurrahman bin Samurah, ia berkata: Rasulullah Shollallahu alahi wasallam  bersabda kepadaku:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan, karena jika engkau diberi karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong). Namun jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong” (Muttafaqun ‘alaih)
Kami akan menjawab bahwa Nabi Yusuf alahi ssalam telah disebutkan kesuciannya oleh Allah Tabaroka wa Ta’ala  dan tidak bekerja kecuali dengan bimbingan Allah. Yakni, semua manusia berlaku padanya kaidah “jika engkau diberi kepemimpinan karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak ditolong) ….” kecuali yang diberi predikat kesucian oleh wahyu yang tidak akan salah. Adapun mereka yang sok pandai pada masa ini, mereka tunduk pada kondisi undang-undang pada hari ini ataupun besok. Bahkan sebelum melaksanakan tugas politik tersebut, mereka harus bersumpah untuk menghormati undang-undang. Dan ini telah terjadi, bahkan kami tidak tahu bahwa selainnya juga telah terjadi. Maka sungguh ajaib orang yang menyingkirkan kekafiran dengan kekafiran.
Maka tersimpulkan dari ketergesaan ini lima jawaban:
1. Nabi Yusuf alaihissalam  tidak meminta kepemimpinan, namun ditwarkan kepada beliau, sebagaimana ditunjukkan oleh susunan ayat. Maksimal yang ada dalam ucapan beliau
“Jadikan aku bendaharawan negeri (Mesir)” adalah keterangan tentang spesialisasinya dan pilihannya.
2. Beliau aman dari tekanan peraturan (negara) dan dipersilakan untuk mengamalkan syariat Islam. Dua hal ini hanyalah sebuah khayalan dalam realita aturan-aturan di muka bumi masa ini.
3. Bahwa beliau mendapat persaksian kesucian di mana beliau juga seorang Rasul. Sehingga tidak dikhawatirkan pada beliau apa yang dikhawatirkan pada orang lain.
Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sirin Rahimahullah , bahwaAmiril Mu’minin Umar radhiyallahu anhu  menugaskan   Abu Hurairah Radhiyallahu anhu  sebagai gubernur di daerah Bahrain. Lalu Abu Hurairah radhiyallahuanhu  datang membawa uang 10.000. Maka Umar mengatakan kepadanya: “Apakah engkau peruntukkan harta ini untuk kepentingan pribadimu, wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya?!”
Maka Abu Hurairah Radhiyallahu anhu  menjawab: “Aku bukan musuh Allah ataupun musuh kitab-Nya, akan tetapi justru musuh yang memusuhi keduanya.”
Umar  Radhiyallahu anhu menukas: “Lalu darimana hartamu ini?”
“Itu adalah kuda yang berkembang biak, dan hasil kerjaan budakku, serta pemberian yang datang beberapa kali,” jawab Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
Mereka pun memeriksanya. Ternyata mereka mendapatkannya seperti apa yang dikatakan Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . Setelah hal itu berlalu, Umar radhiyallahu anhu  memanggil Abu Hurairah radhiyallahuanhu untuk ditugaskan kembali akan tetapi beliau menolak. Maka Umar radhiyallahuanhu  berkata: “Apakah kamu tidak suka jabatan ini, padahal telah memintanya orang yang lebih baik darimu, Yusuf  Alaihisalam ?”
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu menjawab: Yusuf adalah seorang nabi, putra seorang nabi, dan cucu seorang nabi. Sedangkan saya, Abu Hurairah, putra seorang ibu yang kecil. Dan aku khawatir tiga tambah dua (perkara -pent).”
Umar Radhiyallahuanhu berkata: “Tidakkah kamu katakan lima saja?”
Abu Hurairah radhiyallahu anhu menjawab: “Saya khawatir berkata tanpa ilmu, memutuskan tanpa kesabaran dan pikir panjang, takut punggungku dicambuk, hartaku diambil dan kehormatanku dicela.”
4. Syariat umat sebelum kita bukanlah syariat bagi kita pada perkara yang menyelisihi syariat kita. Dalam hal ini, syariat kita telah menyelisihinya.
5. Nabi Yusuf alaihissalam melakukan apa yang beliau lakukan pada tugasnya tersebut dengan posisi beliau sebagai seorang rasul. Seandainya pun seseorang diperbolehkan mengikuti beliau dalam urusan itu, maka pewarisnya secara syar’i adalah seorang mujtahid. Ibnu Abdil Bar berkata: “Bila yang demikian itu (menyebut keahliannya dalam kondisi terpaksa -pent), maka boleh bagi seorang ulama saat itu untuk memuji dirinya dan mengingatkan tentang kedudukannya, maka saat itu berarti dia membicarakan nikmat Allah pada dirinya dalam rangka mensyukurinya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm wa Fadhlihi, 1/176).semoga kita dilindungi oleh Alloh Azza wa jalla dari perkara – perkara jeleknya meminta jabatan
Wallahu a’lam bisshowab





Selengkapnya...

DAJJAL SUDAH ADA DI SEBUAH PULAU

 

Asy-Sya’bi rahimahullahu mengatakan kepada Fathimah bintu Qais radhiyallahu ‘anha: “Beri aku sebuah hadits yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak kamu sandarkan kepada seorang pun selain beliau.” Fathimah mengatakan: “Jika engkau memang menghendakinya akan aku lakukan.” “Ya, berikan aku hadits itu,” jawab Asy-Sya’bi.
Fathimah pun berkisah: “…Aku mendengar seruan orang yang berseru, penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyeru ‘Ash-shalatu Jami’ah’. Aku pun keluar menuju masjid lantas shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku berada pada shaf wanita yang langsung berada di belakang shaf laki-laki. Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya maka beliau duduk di mimbar dan tertawa seraya mengatakan: ‘Hendaknya setiap orang tetap di tempat shalatnya.’ Kemudian kembali berkata: ‘Apakah kalian tahu mengapa aku kumpulkan kalian?’ Para sahabat menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: ‘Sesungguhnya –demi Allah-, aku tidak kumpulkan kalian untuk sesuatu yang menggembirakan atau menakutkan kalian. Namun aku kumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari. Dahulu ia seorang Nasrani lalu datang kemudian berbai’at dan masuk Islam serta mengabariku sebuah kisah, sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal.
Ia memberitakan bahwa ia naik kapal bersama 30 orang dari Kabilah Lakhm dan Judzam. Lalu mereka dipermainkan oleh ombak hingga berada di tengah lautan selama satu bulan. Sampai mereka terdampar di sebuah pulau di tengah lautan tersebut saat tenggelamnya matahari. Mereka pun duduk (menaiki) perahu-perahu kecil. Setelah itu mereka memasuki pulau tersebut hingga menjumpai binatang yang berambut sangat lebat dan kaku. Mereka tidak tahu mana qubul dan mana dubur-nya, karena demikian lebat bulunya. Mereka pun berkata: ‘Apakah kamu ini?’ Ia (binatang yang bisa berbicara itu) menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Mereka mengatakan: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia (justru mengatakan): ‘Wahai kaum, pergilah kalian kepada laki-laki yang ada rumah ibadah itu. Sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian.’ Tamim mengatakan: ‘Ketika dia menyebutkan untuk kami orang laki-laki, kami khawatir kalau binatang itu ternyata setan.’ Tamim mengatakan: ‘Maka kami pun bergerak menuju kepadanya dengan cepat sehingga kami masuk ke tempat ibadah itu. Ternyata di dalamnya ada orang yang paling besar yang pernah kami lihat dan paling kuat ikatannya. Kedua tangannya terikat dengan lehernya, antara dua lututnya dan dua mata kakinya terikat dengan besi. Kami katakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Kalian telah mampu mengetahui tentang aku. Maka beritakan kepadaku siapa kalian ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami ini orang-orang dari Arab. Kami menaiki kapal ternyata kami bertepatan mendapati laut sedang bergelombang luar biasa, sehingga kami dipermainkan ombak selama satu bulan lamanya, sampai kami terdampar di pulaumu ini. Kami pun naik perahu kecil, lalu memasuki pulau ini dan bertemu dengan binatang yang sangat lebat dan kaku rambutnya. Tidak diketahui mana qubul-nya dan mana duburnya karena lebatnya rambut. Kamipun mengatakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Kamipun bertanya lagi: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia malah menjawab, pergilah ke rumah ibadah itu sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian. Maka kami pun segera menujumu dan kami takut dari binatang itu. Kami tidak merasa aman kalau ternyata ia adalah setan.’
Lalu orang itu mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang pohon-pohon korma di Baisan.’
Kami mengatakan: ‘Tentang apanya engkau meminta beritanya?’
‘Aku bertanya kepada kalian tentang pohon kormanya, apakah masih berbuah?’ katanya.
Kami menjawab: ‘Ya.’
Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir ia tidak akan mengeluarkan buahnya. Kabarkan kepadaku tentang danau Thabariyyah.’
Kami jawab: ‘Tentang apa engkau meminta beritanya?’
‘Apakah masih ada airnya?’ jawabnya.
Mereka menjawab: ‘Danau itu banyak airnya.’
Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir airnya akan hilang. Kabarkan kepadaku tentang mata air Zughar1.’
Mereka mengatakan: ‘Tentang apanya kamu minta berita?’
‘Apakah di mata air itu masih ada airnya? Dan apakah penduduknya masih bertani dengan airnya?’ jawabnya.
Kami katakan: ‘Ya, mata air itu deras airnya dan penduduknya bertani dengannya.’ Ia mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang Nabi Ummiyyin, apa yang dia lakukan?’
Mereka menjawab: ‘Ia telah muncul dari Makkah dan tinggal di Yatsrib (Madinah).’
Ia mengatakan: ‘Apakah orang-orang Arab memeranginya?’
Kami menjawab: ‘Ya.’
Ia mengatakan lagi: ‘Apa yang dia lakukan terhadap orang-orang Arab?’ Maka kami beritakan bahwa ia telah menang atas orang-orang Arab di sekitarnya dan mereka taat kepadanya.
Ia mengatakan: ‘Itu sudah terjadi?’
Kami katakan: ‘Ya.’
Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya baik bagi mereka untuk taat kepadanya. Dan aku akan beritakan kepada kalian tentang aku, sesungguhnya aku adalah Al-Masih. Dan hampir-hampir aku diberi ijin untuk keluar sehingga aku keluar lalu berjalan di bumi dan tidak ku tinggalkan satu negeri pun kecuali aku akan turun padanya dalam waktu 40 malam kecuali Makkah dan Thaibah, keduanya haram bagiku. Setiap kali aku akan masuk pada salah satunya, malaikat menghadangku dengan pedang terhunus di tangannya, menghalangiku darinya. Dan sesungguhnya pada setiap celahnya (dua kota itu) ada para malaikat yang menjaganya.’
Fathimah mengatakan: ‘Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan menusukkan tongkatnya di mimbar sambil mengatakan: ‘Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah2, yakni Al-Madinah. Apakah aku telah beritahukan kepada kalian tentang hal itu?’
Orang-orang menjawab: ‘Ya.’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya cerita Tamim menakjubkanku, di mana sesuai dengan apa yang kuceritakan kepada kalian tentangnya (Dajjal), serta tentang Makkah dan Madinah. Ketahuilah bahwa ia berada di lautan Syam atau lautan Yaman- tidak, bahkan dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur -dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah timur-.’
Fathimah mengatakan: “Ini saya hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(HR. Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrathis Sa’ah, Bab Qishshatul Jassasah)
 
Selengkapnya...

ISTIQOMAH MENUJU KERIDHAAN ALLOH AZZA WA JALLA

 oleh Ali Wafa Abu Sulthon 



Istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.
Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)
Yang dimaksud dengan istiqomah di sini terdapat tiga pendapat di kalangan ahli ulama tafsir :
  1. Istiqomah di atas Tauhid, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakr Ash Shidiq dan Mujahid,
  2. Istiqomah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Al Hasan dan Qotadah,
  3. Istiqomah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput, sebagaimana dikatakan oleh Abul ‘Aliyah dan As Sudi 
             ( Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 5/304, Mawqi’ At Tafasir)                                                                                                                  
Dan sebenarnya istiqomah bisa mencakup tiga tafsiran ini karena semuanya tidak saling bertentangan.
Ibnu Abbas rodhiallohu 'anhu menyatakan bahwa istiqomah adalah menjalankan faroidh.
Abul 'Aliyah rohimahulloh memberikan makna istiqomah dengan ikhlas dalam beramal dan menjalankan syariat agama.
Qotadah rohimahulloh mengemukakan istiqomah dengan ketaatan kepada Alloh. (Jami'ul Ulum wal hikam, Ibnu Rojab, Mu'assasatur Risaalah-Riyadh, V.10 - 2004 M: 1/508)
Walaupun para ulama' salaf berbeda-beda dalam memaknai istiqomah, akan tetapiikhtilaf mereka bukanlah saling berlawanan (Tudhadh), melainkan ikhtilaf yang saling menguatkan antara yang satu dengan yang lainnya (Tanawwu'). Sehingga Imam Ibnu Rojab setelah menukilkan perkataan para ulama', beliau menyimpulkan; Istqomah adalah prilaku yang lurus, agama yang berdiri tegak, tidak condong kekanan atau kekiri, yang meliputi seluruh amal ketaatan secara lahir maupun batin, dan meninggalkan seluruh larangan (Alloh) secara lahir dan batin pula. (Jami'ul ulum wal hikam, Ibnu Rojab Al Hambali, 1/510)
Suatu hari seorang sahabat yang mulia meminta petunjuk kepada Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- dalam urusan agamanya. Beliau adalah Sufyan bin Abdulloh rodhiallohu 'anhu.
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ :قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ بَعْدَكَ قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Dari Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqofi rodhiallohu 'anhu Beliau berkata: "Wahai Rosululloh, katakanlah kepadaku dalam ajaran Islam ini satu ucapan, sehingga aku tidak bertanya lagi kepada selain engkau tentang itu". Abu Mu'awiyah berkata: "(Bertanya kepada) orang setelah engkau". Beliau menjawab: "Katakanlah, Aku beriman pada Alloh, kemudian istiqomahlah (diatas jalan-Nya)." ( HR. Muslim: 55, Tirmidzy: 2334, Ibnu Majah: 3962, Ahmad: 14869 dan yang lainnya)
Tips jitu Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam yang diberikan kepada Sufyan bin Abdulloh dan seluruh umatnya, adalah bukan sekedar omong kosong. Karena beliau tidak berbicara dari hawa nafsu, melainkan wahyu dari Alloh ta'ala. Ibnu Rojab Al Hambali berkata: "Wasiat Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam ini meliputi seluruh aspek ajaran agama. (Jami'ul ulum wal hikam, Ibnu Rojab Al Hambali, 1/510)
Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsimin rohimahulloh menerangkan hadits diatas bahwa (قُلْ آمَنْتُ بِاللَّه ) adalah beriman kepada Alloh di dalam hati, dan ( ثُمَّ اسْتَقِمْ ) adalah istiqomah dengan perbuatan. Maka kadar keimanan seseorang kepada Alloh ta'ala dapat diukur dengan ketaatan kepada-Nya. Kemudian beliau berkata: "Bagi siapa saja yang dapat menerapkan wasiat tersebut dalam hidupnya, maka dia orang yang bahagia di dunia dan akhirat." (Syarhul Arba'in An Nawawiyyah, Syeikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin, Daar Al 'Aqidah-Cairo, 2000 M: 74)
Dalam Al qur'an dijelaskan balasan bagi orang yang bisa beristiqomah di atas jalan-Nya. Alloh ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ . نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Alloh" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Alloh kepadamu. Kami adalah wali kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan bagi kalian apa saja yang kalian inginkan di dalamny. Sebagai hidangan dari yang maha pengampun lagi maha penyayang." (QS. Fushshilat: 30-32)
Dalam ayat lain Alloh ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ .
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Alloh", Kemudian mereka tetap istiqamah Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
Mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang Telah mereka kerjakan." (QS. Al Ahqaaf: 13-14)
Buah dari istiqomah sangatlah manis, yaitu tidak akan merasakan sedih dan takut dalam hidup ini, dan di akhirat mendapatkan balasan syurga atas apa yang telah diamalkan. Bila dicermati lebih dalam, apa tujuan kerja keras manusia di dunia ini?. Dengan mengorbankan waktu dan menempuh jarak yang panjang, memeras keringat dan fikiran?. Ternyata yang dicari tidak lebih dari sekedar keinginan rasa nyaman dalam hidup, rasa aman dan tidak takut, tentram tanpa gangguan apapun. Alloh ta'alatelah memberikan jalan keluar yang sangat mudah untuk dilaksanakan. Bagi yang diberi jalan kemudahan oleh-Nya, akan sangat mudah untuk menjalankannya. Dan sebaliknya akan sangat sulit untuk orang-orang yang membangkang.
Bila istiqomah adalah komitmen dalam ajaran Islam secara kaaffah, maka harus benar-benar diperhatikan rambu-rambu yang ada di areanya. Garis-garis merah melintang adalah larangan, haruslah ditinggalkan secara keseluruhan. Adapun kewajiban yang itu merupakan perintah, harus dijalankan sesuai dengan aturan yang membawa syariat ini. Tidak boleh menyimpang, mendahului atau bahkan melawan arus. Jika itu semua dilanggar maka jaminan kenyamanan hidup baik di dunia ataupun di akhirat dengan sendirinya akan gugur. Karena istiqomah sudah tidak lagi melekat erat pada dirinya.
Salah satu bentuk dari istiqomah adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rosulullohshollallohu 'alaihi wasallam:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang paling rutin dilakukan walaupun itu sedikit." (HR. Bukhori: 5983, Muslim: 1303)
'Aisyah rodhiallohu 'anha menceritakan tentang amal ibadah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ
"Dahulu Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam apabila melakukan satu amalan, beliau menekuninya". (HR. Muslim: 1253, Abu Daud: 1161)
Untuk senantiasa istiqomah di atas ajaran yang mulia ini tidaklah mudah, bahkan sangat susah dan payah. Karena iblis dan bala tentaranya tidak akan membiarkan itu terjadi pada hamba-hamba Alloh di dunia ini. Mereka terus akan menggiring anak cucu Adam untuk diajak masuk ke dalam jurang kesengsaraan paling dalam sebagai bahan bakarnya. Tentunya dengan berbagai macam cara, sehingga dapat mempengaruhi mereka. Banyak godaan, banyak ujian, yang merupakan kembang dalam taman kehidupan manusia. Karena Alloh ta'ala menciptakan manusia untuk diuji; siapakah yang paling baik amalannya. Maka jika sedikit saja tergiur dengan tipu daya seitan tentunya akan tercebur ke dalam lautan kesengsaraan tak bertepi, terombang ambing dalam badai nista.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membantu diri dan membentengi jiwa agar senantiasa dapat beristiqomah diatas jalan-Nya, antara lain adalah:
1.  Mempelajari ajaran agama Islam sesuai dengan tuntunannya, sebelum menjalankannya.
Inilah yang disinggung oleh Imam Bukhori dalam kitab shohih beliau "Bab al 'ilmu qobla Al qouli wal 'amal." Islam adalah jalan yang lurus, dan ilmu tentangnya adalah cahaya, sedangkan kebodohan adalah kegelapan. Tidak mungkin orang akan bisa berjalan dengan stabil bila jalan tersebut gelap gulita. Yang ada hanyalah tersesat jalan atau terjerebab ke dalam lobang. Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam sudah mengajarkan kepada ummatnya segala sesuatu tentang agama ini, tergantung bagaimana kita umatnya mempelajarinya dan mengamalkannya. Beliau shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:
مَا بَقِيَ مِنْ شَيْءٍ يُقَرِّبُ مِنَ اْلجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
"Tidak tersisa suatu apapun yang mendekatkan diri pada syurga dan menjauhkan diri dari (siksa) neraka melainkan sudah dijelaskan pada kalian." (HR. Thobroni dan Ahmad, dinyatakan shohih oleh syeikh Al Albany dalam As Sisilah As Shohihah: 1803).
2.  Budayakan saling menasehati antar sesama, karena nasehat adalah inti dari ajaran Islam yang mulia ini.
Alloh ta'ala berfirman:
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran." (QS. Al 'Ashr: 1-3)
Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat-sahabatnya:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
"Agama adalah nasehat ." kami (Sahabat) berkata: "Nasehat untuk siapa wahai Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam?". Beliau menjawab, "Untuk Alloh, kitab-kitab-Nya, Rosul-Nya, para pemimpin kaum muslikin dan seluruh umat Islam."(HR. Muslim: 82, dari jalan Tamim Ad Dari rodhiallohu 'anhu).
Imam Nawawi rohimahulloh berkata: "Hadits ini sangatlah agung, dan padanya sumber (ajaran) Islam." (Syarhun Nawawi 'ala Muslim, Daar Ihyaa'utturots Al 'Aroby – Bairut, V.2, Th 1392 H: 2/37).
Alangkah indahnya hidup bila masing-masing individu muslim sadar akan pentingnya hal ini. Saling mengingatkan antar sesama, karena itu bukti cinta dia kepada saudaranya kerena Alloh. Dan karena manusia pada dasarnya adalah memiliki sifat salah, maka diantara hak seorang muslim yang harus dipenuhi oleh saudaranya adalah menasehati ketika dia berbuat kesalahan.
3. Hidup dalam lingkungan yang sholeh
Lingkungan yang sholeh sangat membantu seseorang di dalam mencetak dirinya sebagai seorang yang sholeh dan selalu istiqomah. Bagaimana tidak demikian?, sedang disekelilingnya adalah cermin bagi dia untuk senantiasa berkaca, apa yang kurang beres pada dirinya? Apa yang kurang pas? Apa yang kurang baik? Semua pertanyaan akan dia jawab sendiri dan akan dikembalikan pada dirinya sendiri, lalu dengan serta merta dia membenahinya. karena arus sekitar di sekeliling hidupnya sangatlah deras, dan mau atau tidak dia harus mengikutinya. Perumpamaan yang lebih sederhana daripada itu adalah, pengaruh seorang sahabat dalam hidup. Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
"Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wanginya sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau tidak sedapnya." (HR. Bukhori: 5108, Muslim: 4762)
Jika dalam persahabatan saja pengaruhnya sangat luar biasa, bagaimana dengan arus lingkungan yang sudah tentu pengaruhnya jauh lebih besar.
4. Senantiasa berdo'a kepada Alloh ta'ala.
Do'a adalah senjata paling ampuh yang dimiliki oleh seorang mukmin, sekaligus salah satu perantara untuk menunjang hidup bahagia. Karena siapapun manusianya adalah hamba yang lemah, miskin papa dan tidak memiliki daya upaya melainkan dari Alloh 'azza wajalla Sang pencipta alam semesta. Dia senantiasa akan bergantung pada-Nya dan mengharapkan belas kasih-Nya. Mengharapkan pertolongan, perlindungan, taufiq, hidayah dan apa saja yang ia butuhkan dari-Nya. Begitulah seharusnya seorang mukmin. Karena do'a merupakan ibadah yang paling agung dan inti daripada ibadah itu sendiri.
Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam mengajarkan pada kita umatnya berdoa meminta ketetapan hati dan keteguhan jiwa dalam indahnya iman. Doa yang senantiasa beliau lantunkan adalah:
ياَ مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ! ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ
"Wahai Dzat yang Maha membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu." Dan tatkala beliau shollallohu 'alaihi wasallam ditanya tentang hal tersebut, beliau menjawab: "Sesungguhnya hati anak adam berada di antara dua jari dari jari-jari Alloh Azza wajalla, jika Dia berkehendak maka Alloh akan mencondongkannya dan jika berkehendak maka Alloh akan meluruskannya." (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah. Dinukilkan oleh Syeikh Al Bani dalam As Silsilah As Shohihah: 2091)
Diriwayatkan bahwa Hasan Al Bashri rohimahulloh ketika membaca ayat ( إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) beliau berdoa: "Ya Alloh, Engkau adalah Robb kami, maka anugerahkanlah kepada kami istiqomah". (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam, Ibnu Rojab: 5/109)
Maka Istiqomah itu adalah jalan menuju Keridhaan Alloh azza wa jalla sebagaimana para Rasul  dan Ambiya’ , juga para As – Siddiqin dan Sholihin meniti jalan yang lurus dengan Istiqomah yang kokoh bagaikan Pohon yang batangnya menjulang ke Langit dan Akarnya menancap ke bumi dengan buah – buah yang bermanfaat bagi manusia , wallohu A’lam bis showab.
Selengkapnya...

METODE TIBBUN AN-NABAWI ( PENGOBATAN NABI SHOLLALLAHUALAIHI WASALLAM

Salah satu metode pengobatan yang dianjurkan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan Habbatus Sauda’, berikut ini adalah pembahasannya:
Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Dalam Habbatus Sauda’ ada obat dari segala penyakit, kecuali as-Saam”.
Ibnu Syihab (seorang rawi hadits ini) mengatakan : “as-Saam adalah kematian, dan Habbatus Sauda’ adalah asy-Syuniz.”
[HR. Bukhori, dalam Kitab at-Thibb, bab al-Habbatus Sauda', Hadits no. 5688]
-
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesungguhnya Habbatus Sauda’ ini adalah obat dari segala penyakit, kecuali as-Saam”. Aku berkata (Perawi hadits ini, yakni Kholid bin Sa’ad): “apa itu as-Saam?” dijawab (yakni oleh Ibnu Abi Atiq): “Kematian”.
[HR. Bukhori, dalam Kitab at-Thibb, bab al-Habbatus Sauda', Hadits no. 5687]
-
Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah ada suatu penyakit, kecuali dalam Habbatus Sauda’ terdapat kesembuhan baginya, kecuali as-Saam (kematian)”
[HR. Muslim, dalam Kitab as-Salaam, bab at-Tadawi bil Habbatis Sauda’. Hadits no. 2215]
Nama lain dari Habbatus Sauda` adalah Nigella Sativa, al-Karawiyyah as-Sauda’, al-Kamoun al-Aswad, asy-Syuniz, black cumin, kerosene, coal oil, carazna.
 -
Menurut beberapa hasil penelitian, Habbatus Sauda` memiliki khasiat –dengan izin Allah– :
1.      Menguatkan immunity system pada diri manusia.
2.      Melawan & menghancurkan sel-sel kanker/tumor.
3.      Mengobati reumatik, peradangan serta infeksi.
4.      Menghentikan dan menyembuhkan penyakit pilek.
5.      Jika digoreng & dibakar kemudian dicium terus-menerus dapat mengeliminasi gas (dalam) perut.
6.      Membunuh cacing-cacing parasit jika dimakan sebelum makan pagi dan jika diletakkan di atas perut dari bagian luar sebagai aromaspa atau luluran.
7.      Minyaknya bermanfaat untuk menyembuhkan gigitan ular, juga bengkak di dubur dan tahi lalat.
8.      Menghilangkan sesak nafas & sejenis kesulitan nafas, melonggarkan penyumbatan akibat dahak.
9.      Melancarkan haidh yang tersendat.
10.  Jika dibalutkan, bermanfaat untuk menyembuhkan pusing yang parah.
11.  Apabila dimasak dengan cuka bersama kayu pinus dan kemudian dibuat untuk berkumur, maka hal itu akan menghilangkan sakit gigi yang disebabkan sensitifitas terhadap dingin.
12.  Jika diminum, biji ini akan melancarkan kencing, haidh dan ASI.
13.  Menyembuhkan gigitan Laba-laba.
14.  Bila dibakar, asapnya dapat mengusir serangga.
15.  Menghilangkan sendawa asam yang berasal dari dahak dan melancholia (gangguan yang disebabkan kesedihan yang terus-menerus/depresi sehingga merusak bagian empedu).
16.  Menghilangkan Kusta (lepra).
17.  Menghilangkan demam Quartan (yakni demam yang menyerang manusia selama sehari kemudian mereda selama 2 hari kemudian menyerang lagi ketika hari ke-4).
18.  Jika ditumbuk dan dibuat adonan dengan madu dan air hangat dapat menghancurkan batu yang muncul dalam ginjal dan kandung kemih serta sifat diuretic (memperlancar air seni).
19.  Apabila digoreng dan dicium terus-menerus dan dicampur dengan cuka dapat menyembuhkan jerawat dan kudis serta menghilangkan peradangan yang lebih kronis dari jerawat (tumor).
20.  Jika digoreng tanpa minyak dan ditumbuk serta dicampur dengan minyak zaitun kemudian diteteskan ke dalam hidung 3 tetes akan menyembuhkan gejala pilek yang disertai bersin-bersin.
21.  Jika dibakar dan dicampur dengan lilin  dan minyak inai/henna atau minyak bunga iris serta dibalurkan pada borok-borok/koreng yang keluar di betis setelah dibersihkan dengan cuka, maka akan dapat menghilangkannya.
22.  Bermanfaat untuk menyembuhkan bekas gigitan anjing (Rabies) dan aman dari kematian akibat rabies.
23.  Jika dihirup akan bermanfaat bagi hemiplegia (semiparalysis/lumpuh separuh).
24.  Jika enzoat (celak persia) dicampur dengan air & dibalurkan ke lingkaran dubur (lobang dubur/anus) dan juga diminum dengan dosis sekitar 25 gr akan menyembuhkan Bawasir.
25.  Jika disedot melalui hidung akan bermanfaat menghentikan air yang keluar pada mata.
26.  Dan lain-lain.

Aiman bin ‘Abdil Fattah mengatakan :”Karena itulah kami dapat menetapkan bahwa dalam Habbatus Sauda’ terdapat kesembuhan untuk segala macam penyakit, karena peranannya yang menguatkan dan memperbaiki sistem immunity, suatu sistem yang di dalamnya ada kesembuhan dari segala macam penyakit, yang bereaksi terhadap segala sebab yang menimbulkan penyakit, yang memiliki kemampuan awal untuk memberikan kesembuhan secara sempurna atau sebagian diantaranya untuk menyembuhkan segala penyakit”.
Beliau juga mengatakan : “Begitulah kejelasan hakikat ilmiah tentang hadits yang mulia ini, yang sebelumnya tidak pernah diketahui siapapun, apalagi dinyatakan kepada masyarakat luas. Padahal yang demikian itu sudah dinyatakan sejak 14 abad yang lampau, yang menerima wahyu dari Dzat Yang Maha Mengetahui segala rahasia makhluk-Nya. Benar apa yang difirmankan-Nya :
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS An-Najm : 3-4).
            Kemudian beliau (Aiman bin ‘Abdil Fattah) mengingatkan : “Investasi kajian dan penelitian tentang pengobatan ala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam semacam ini, dengan menggunakan sarana yang sederhana namun besar manfaatnya, harus bekerja sama dengan para pakar medis dan ahli pengobatan. Kita tidak boleh mengubur kepala di dalam pasir dan mengabaikan penggunaannya, karena terprovokasi pengobatan dengan jenis rerumputan atau para produsen minyak, seperti yang terjadi belakangan ini.
            Kita juga harus pasang kuda-kuda bahwa harga obat-obat kimiawi di seluruh negara Islam akan melonjak tajam dari harga saat ini, sesuai dengan tata tertib organisasi perdagangan internasional, yang melarang pembuatan obat-obatan kecuali di negara asalnya, yang dimulai tahun 2005 mendatang.
            Karena itulah kami menghimbau kepada para peneliti orang-orang Muslim agar aktif mengeluarkan simpanan pengobatan ala Nabi, sesuai dengan penelitian ilmiah yang akurat, sebagaimana himbauan kami kepada para investor agar menanamkan modalnya untuk memproduksi obat-obatan berdasarkan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah mereka menunggu hingga orang-orang Muslim menjadi santapan obat-obatan kimiawi, sebagaimana kini mereka menjadi santapan berbagai produk makanan.”

Kajian Penelitian Jinten Ireng ( Habbatus Saoda’) Oleh Para Ilmuawan Barat
1. Dr. Ahmad Al Qadhy, 1986
Salah satu khasiat yang telah teruji untuk Imuniti adalah kemampuan tubuh menciptakan kekebalan khusus, kuat dan sempurna untuk melawan segala unsur yang menyerang tubuh. Imuniti ini terbentuk dari jaringan limpa dan sel-sel limpa yang menghasilkan antibodi yang berfungsi menghancurkan mikroba yang menyerang tubuh yang disesuaikan dengan susunan dan sifatnya.
Sel Limpa atau Lymph Cell merupakan senjata khusus paling banyak yang selalu siap sedia menghadapi serangan apapun, termasuk menghadapi racun yang membinasakan. Sel Limpa ada dua macam: Pertama B Lymphocites yang terbentuk dalam sumsum tulang, lalu menyebar ke seluruh tubuh dan berpusat di darah dan limpa; Kedua, T-Lymphocite, terbentuk juga di sumsum tulang, sebelum tumbuh sempurna, sel ini mengarah ke thymus, kelenjar dekat tenggorokan. Setelah matang, sel terbagi menjadi tiga yaitu, The Helper T-Cell, Killer Cell Orcytoxic dan suppressor cells tsb.
Gambarannya, masing-masing dari The Helper T-cell, Killer cell orcytoxic dan suppressor cell ts berusaha mengenal sel-sel yang diserang dalam tubuh, yang berarti di dalamnya ada materi-materi yang aneh dan sekaligus memusnahkannya.
Lalu, sel-sel darah putih dengan tiga jenisnya aktif menyemprotkan enzim yang berbeda-beda, menarik dan mengumpulkan sel-sel imuniti ke tempat peradangan. Jadi, setiap kali ada materi asing yang masuk ke dalam tubuh manusia, maka lymphocite cell baik B maupun T, menjadi aktif, menyebar ke seluruh tubuh dan membentuk pasukan yang banyak dari sel-sel imuniti.
Pada tahun 1986, Dr. Ahmad Al Qadhy dan rekan-rekannya melakukan penelitian di Amerika tentang pengaruh Jinten Hitam terhadap sistem kekebalan tubuh (imuniti) manusia. Penelitian yang dilakukan dalam dua tahap itu menghasilkan kesimpulan pertama: Kelebihan prosentase The Helper T-Cell atas suppressor cells ts mencapai 55% dan ada sedikit kelebihan atas killer cell orcytoxic sebanyak 30%.
Penelitian tahap kedua dengan melibatkan 18 sukarelawan yang badan mereka terlihat sehat dan segar. Mereka dibagi dalam dua kelompok, satu kelompok diberi satu gram habatussauda setiap harinya, dan kelompok lain diberi karbon. Selama empat pekan mereka mengkonsumsi habatus dan karbon yang sudah dikemas dalam butir-butir kapsul.
Hasilnya, Jinten Hitam menguatkan tugas-tugas imuniti dengan tambahan prosentase The Helper T-lymphocytes cell atas suppressor cell-ts. Jadi, sistem kerja habatatussauda dalam tubuh manusia adalah dengan memperbaiki, menjaga dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia terhadap berbagai penyakit.
Dalam sistem kekebalan tubuh manusia, habatussauda adalah satu-satunya tatanan yang memiliki senjata khusus untuk menghancurkan segala macam penyakit. Sebab, setelah sel paghocytosis menelan kuman-kuman yang menyerang, ia membawa bakteri antigenic ke permukaannya, kemudian menempel dengan sel lymph, untuk mengetahui bagaimana susunan mikrobanya secara mendetil, lalu memerintahkan masing-masing sel T-lymphocytes untuk menghasilkan antibodies atau sel T-spesific, khususnya adalah antigenic yang jug dibangkitkan untuk berproduksi.
Dinding sel B-Lymphocytes memiliki kurang lebih 100 ribu molekul dari antibodi yang saling bereaksi secara khusus dan dengan kemampuan yang tinggi dengan jenis khusus yang ditimbulkan oleh antigenic dalam mikroba. Antibodi menyatu dengan sel T- Lymphocytes, lalu bersama-sama dengan antigenic melawan mikroba, sehingga mikroba tidak dapat berkerja dan sekaligus bisa menghancurkannya.
Dengan demikian, kekebalan itu merupakan kekebalan khusus untuk menghadapi setiap hewan asing yang masuk ke dalam tubuh. Karena, habatussauda mempunyai kekebalan spesifik yang didapat secara otomatis, yang memiliki kemampuan berbentuk antibodies dan senjata sel serta pengurai khusus untuk setiap hewan asing yang masuk dan menyebabkan penyakit.

2. Beberapa Kajian ilmiah lain tentang jinten hitam (Nigella sativa)
Di awal 90-an ilmuwan Amerika Serikat melakukan penelitian yang menghasilkan penemuan bahwa minyak Jinten Hitam ternyata tidak hanya berfungsi menyembuhkan namun juga mengandung lebih dari 100 unsur yang mendukung sistem kekebalan tubuh manusia, termasuk di dalamnya unsur yang mampu menyembuhkan penyakit kanker (anti tumor, anti cancer). Penemuan yang luar biasa ini menyebabkan Euforia Jinten Hitam di Amerika Serikat.
Berikut ini beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuan yang berasal dari Jerman dan Amerika Serikat.

Jinten Hitam Mengandung minyak eter yang dapat membantu pencernaan dan mengurangi masalah usus.
Prof Dr Hildebert Wagner
Institut fur pharmazeutisce biologie, Muenchen Jerman
Jinten Hitam terbukti menyembuhkan 70% pasien alergi, termasuk didalamnya alergi serbuk dan debu juga jerawat dan neurodermitis (penyakit kulit), asthma dan lemahnya daya kekebalan tubuh. Mengkonsumsi jintan hitam secara teratur dapat menahan penyakit flu.
Dr Peter Schleicher
Immunologe, Munscen Jerman
Minyak tanaman Jinten Hitam berkhasiat tidak hanya pada asthma, tetapi juga pada Neurodermitis
Prof Dr Michael Meurer
Munchener Dermatologische Klinik, Jerman
Dengan mengkonsumsi Jinten Hitam sangat berkhasiat karena kandungan yang tinggi dari asam lemak tidak jenuh
Prof Dr Walter Dorsch
Munschen Jerman
Terapi baru yang efektif, mudah dicerna dan tidak mahal pada penyakit alergi adalah pengguna asam lemak tak jenuh dari minyak biji tanaman terutama minyak Jinten Hitam.
Dr Lutz Bannasch
Munchen Jerman
Ekstrak Jinten Hitam memiliki khasiat anti-tumor tanpa efek samping seperti yang terjadi pada chemotherapy dan penyinaran.
Study of Nigella sativa on humans
University of South Carolina USA
Jinten Hitam memiliki peranan yang penting pada pencegahan tumor. Pada pemakaian dalam waktu yang lama minyak Jinten Hitam memperkuat sistem kekebalan tubuh. Selain itu dapat mempercepat pembelahan sel.
Dr Stanley Kopok
University of Arizona USA
Karena kandungan tinggi berlipat-lipat asam lemak tidak jenuh, Minyak Jinten Hitam sangat rentan terhadap oksidasi. Pada penyumbatan (sembelit) dalam tubuh maka diperlukan perlindungan selanjutnya dari pengaruh buruk oksigen reaktif. Karena alasan itu sangat penting untuk menambahkan vitamin antioksidan (vitamin E dan beta caroten (provitamin A).
Institut zur Erforschung neuer Therapieverfahren
Chronischer Krankheiten und Immunologie, Munchen Jerman
Sumber: www.bindarasaodax.com
Selengkapnya...

Kewajiban Mengamalkan Sunnah

Translate

>