IDENTIFIKASI AJARAN ALIRAN SESAT MENURUT ISLAM


 Oleh Ali Wafa Abu Sulthon 



Ajaran sesat dalam bahasa Inggris: Heresy atau kadangkala ditulis dalam bahasa arab sebagai bid’ah بدعة yang secara harafiah berarti memulai, menurut saya pribadi adalah “pandangan atau teori mengenai keagamaan yang dianggap berlawanan atau bertentangan dengan ajaran agama yang dikatakan berhubungan dengan ajaran sesat tersebut.”. Dalam prakteknya selama ini terutama di indonesia, banyak sekali ajaran sesat yang berkembang dan tumbuh diantara masyarakat ind0nesia. Kebanyakan dari pengikutnya berasal dari kalangan menengah ke bawah yang tergiur masuk dalam suatu aliran sesat karena di iming-imingi kekayaan dan  kesejahteraan yang mereka pikir tidak dapat mereka dapatkan dari agama yang mereka anut selama hidup mereka.
Dalam keadaan tertekan beban ekonomi, tentu saja iman mereka dapat melemah dan tidak menutup kemungkinan mereka akan berpindah keyakinan hanya dengan di iming-imingi kekayaan semu yang belum tentu mereka bisa dapatkan. Masalah aliran sesat ini masuk ke dalam daftar masalah sosial yang cukup rumit mengingat ini adalah kemauan individunya sendiri yang dengan sadar memasuki aliran tersebut. Melihat sifat dasar orang indonesia yang mudah  terpengaruh ajakan yang menggiurkan, bukan tidak mungkin bahwa ajaran-ajaran sesat tersebut dapat berkembang pesat di indonesia.

Sebagai indikasi awal yang selayaknya menimbulkan kecurigaan terhadap satu paham atau pengajian bisa melalui tanda-tanda  pada aliran – aliran sesat adalah sebagai berikut :
  • Pengajian dilaksanakan secara rahasia-rahasia, tertutup kepada selain jamaahnya. Sebagiannya melakukan pengajian tengah malam sampai subuh dan tempatnya pun sangat terisolir.
قال عمر بن عبد العزيز ( إذا رأيت قوما يتناجون في دينهم بشيء دون العامة فاعلم أنهم على تأسيس ضلالة )
  • Gurunya tidak dikenal sebagai ahli Agama, tidak pernah menekuni ilmu agama, dan tidak dikenal sebagai orang yang rajin beribadah, tetapi tiba-tiba menjadi pengajar Agama.
  • Adanya bai’at atau mitsaq untuk taat pada guru atau pimpinan pengajian. Bahkan, ada janji yang harus ditandatangani oleh anggota pengajian tersebut.
  • Cara ibadah yang diajarkan aneh dan tidak lazim.
  • Adanya tebusan dosa dengan sejumlah uang yang diserahkan kepada guru atau pimpinan jamaah. Kadang-kadang, pengajian sesat ini mengharuskan adanya sedekah lebih dahulu sebelum berkonsukltasi dengannya.
  • Adanya penyerahan sejumlah uang  dan orang yang menyerahkannya pasti masuk sorga. Adanya sumbangan yang tidak lazim sebagaimana layaknya sumbangan sebuah pengajian. Misalnya, 10% atau 5% dari penghasilan harus diserahkan kepada guru atau pimpinan pengajian.
  • Pengajiannya tidak mempunyai rujukan yang jelas, hanya penafsiran-penafsiran gurunya saja.
  • Pengajiannya tidak memakai Hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sumber ajaran hanya Al-Quran dengan penafsiran dan pemahaman guru yang ditetapkan oleh pengajian dan tidak boleh belajar kepada ustadz lain.

Majelis Ulama Indonesia
Adapun MUI Pusat maka menetapkan dan mengumumkan Pedoman Identifikasi Aliran Sesat pada tanggal 6 Nopember 2007.
Dalam pedoman ini dinyatakan: Suatu faham atau aliran dinyatakan sesat apabila memenuhi salah satu dan kriteria berikut :
  1. Mengingkari salah satu rukun iman yang 6 (enam) yakni beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya kepada kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-Rasul-Nya, kepada hari Akhirat, kepada Qadla dan Qadar, dan rukun Islam yang 5 (lima) yakni mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji.
  2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur`an dan as-Sunnah),
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran,
  4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Quran,
  5. Melakukan penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaedah-kaedah tafsir,
  6. Mengingkari kedudukan Hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam,
  7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul,
  8. Mengingkari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai Nabi dan Rasul terakhir,
  9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardu tidak lima waktu,
  10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengakafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.
Begitu jelasnya kriteria ini, namun masih ada saja yang berusaha memanfaatkan kebodohan masyarakat dengan mengaburkannya dan mengganti kriteria ini dengan kriteria yang justru malah sesat. Misalnya ada yang mengatakan kepada masyarakat bahkan di forum ilmiah bahwa kriteria faham dan aliran sesat atau sempalan adalah faham atau aliran yang menyimpang dari ordo-ordo keagamaan yang ada di masyarakat. Jika MUI menjadikan Islam (al-Qur`an dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) sebagai mainstream dan yang menyimpang disebut sesat, maka orang ini menjadikan tradisi keagamaan masyarakat sebagai ukuran sesat dan tidaknya. Oleh karena itu harus waspada dari orang yang jahil atau yang ingin merusak.
Selain merusak akidah, memecah belah Agama, dan mengundang murka Allah di dunia dan akhirat, aliran-aliran ini merusak tatanan sosial, merusak hubungan keluarga, merusak persatuan umat, merusak cara berpikir masyarakat dan prilaku masyarakat. Bahkan ada yang membahayakan Negara.
Para ulama umumnya dan MUI khususnya telah banyak menghabiskan tenaga, waktu, pikiran, dan bahkan dana untuk meluruskan dan mengatasi masalah ini. Sehubungan dengan mudarat yang ditimbulkan aliran dan paham sesat ini, pemerintah umumnya, dan Presiden SBY khususnya telah menyatakan dukungannya terhadap fatwa-fatwa MUI dan menyatakan bahwa fatwa Agama hanya bisa dikeluarkan oleh MUI Karena itu, tanggung jawab MUI khususnya dan tanggung jawab para ulama dan dai umumnya semakin besar dalam masalah ini. Jika selama ini, MUI dan para ulama mengurusi dan mengeluarkan fatwa terhadap berbagai aliran sesat berdasarkan tanggung jawab sebagai ulama memelihara dan menjaga kesucian agama serta memelihara akidah umat, maka ke depan, MUI dan para ulama mengurusi aliran dan paham sesat juga menjadi tanggung jawab membangun bangsa dan menindaklanjuti harapan pemerintah.
KRETERIA  ALIRAN SESAT MENURUT PARA ULAMA’
Syekh Shaleh al-Fauzan menjelaskan  dalam risalah Lamhah ‘Anil Firaq al-Dhallah.
 akar aliran sesat secara berurutan adalah
1. Qadariyyah (nufat)
  • Ingkat taqdir rukun iman ke-6 (berhadapan dengan Jabariyyah: hamba itu majbur dalam perbuatannya tanpa ada ikhtiyar)
  • Qadariyyah pecah menjadi banyak
2. Khawarij
  • Khuruj ‘ala ulil amri adalah agama
  • Takfir sahabat
  • Takfir pelaku dosa besar
  • Pelaku dosa besar kekal di neraka
  • Khawarij pecah menjadi banyak (Haruriyyah, Azariqah, Ibadhiyyah, Najdat, Shafaroyyah dll)
3. Syiah
  • Ali washi dan khalifah Rasulillah
  • Khulafa` rasyidin zhalim mengghashab khilafah
  • Ghuluw dalam imam ahlul bait hingga diberi hak tasyri’ dan menasakh hukum
  • Membangun kuburan imam dan melakukan thawaf serta nadzar dan istighatsah kepada yang dikubur disana
  • Meyakini mushhaf Usman ini qur`ab yang muharraf
  • Pecah menjadi banyak (Zaidiyyah, Rafidhah, Ismailiyyah, Fathimiyyash, qaramithah dll)
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

4. Jahmiyyah
  • Jahm ibn Shafwan, dari Ja’d, dari, Thaluth, dari Labid Ibn al-a’sham al-Yahudi)
  • Mengingkari nama dan sifat Allah, karena jika menetapkan maka itu syirik, berarti tuhan itu banyak (tajahhum dalam asma sifat).
فلا يلزم من تعدد الأسماء والصفات تعدد الآلهة ، ولهذا لما قال المشركون من قبل لما سمعوا النبي – صلى الله عليه وسلم – يقول : ( يا رحمن ، يا رحيم ) . قالوا : هذا يزعم أنه يعبد إلهًا واحدًا ، وهو يدعو آلهةً متعددةً ، فأنزل الله – سبحانه وتعالى – قوله : ( قُلِ ادْعُوا اللهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى ) . [ الإسراء : 110 .

  • Jabr dalam takdir
  • Irja` dalam iman
  • Ditambah: Khalqul qur`an
قال ابن القيم : ( جِيْمٌ وجِيْمٌ ثُمَّ جِيْمٌ مَعْهُمَا ... مَقْرُونَةً مَعْ أَحْرُفٍ بِوِزَانِ ... جَبْرٌ وإِرْجَاءٌ وَجِيْمُ تَجَهُّمٍ ... فَتَأَمَّلِ المجمُوعَ في الْمِيْزَانِ ... فَاحْكُمْ بِطالِعِها لِمَنْ حَصُلَتْ ... بخلاصِـهِ مِنْ رِبْقَةِ الإيمانِ.

- Maka Syekh Fauzan berkata:
يعني : جمعوا بين " جبر " و " تجهُّم " و " إِرجاءٍ " ، ثلاث جيمات ، والجيم الرابعة جيم جهنم .

  • Kemudian muncul dari padanya Mu'tazilah, lalu Asy'ariyyah dan Maturidiyyah.

5. Mu'tazilah
  • Menetapkan nama Allah mengingkari sifat Allah
  • Pelaku dosa besar tidak mukmin tidak kafir
يا سبحان الله ! هل يعقل أن الإنسان لا يكون مؤمنًا ولا كافرًا !؟
والله - تعالى - يقول : ( هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ ) . ما قال : ومنكم من هو بالمنزلة بين المنزلتين . لكن هل هؤلاء يفقهون !؟

  • Pelaku dosa besar kekal di neraka

6. Asya'irah
  • Nisbat kepada imam Abul Hasan al-Asy'ari yang tadinya mu'tazilah, kemudian taubat mengikuti kepada sunnah mengikuti jejak Abdullah ibn Said ibn Kullab (Kullabiyah) yaitu menetapkan 7 sifat saja dan menolak yang lain karena akal tidak menunjukkan kepadanya:
"العلم"، و "القدرة"، و "الإرادة"، و"الحياة"، و"السمع"، و"البصر"،و"الكلام -
  • Kemudian Imam abul Hasan dikaruniai hidayah oleh Allah untuk mengikuti Imam Ahmad Radhiallahu ‘Anhu (madzhab ahli hadits). Dia berkata (dalam al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah dan Maqalat al-Islamiyyin wakhtilaf al-Mushallin) bahwa dia mengikuti Imam Ahmad dan ahli hadits meskipun masih ada sisa mukhalafat. Dia berkata:
( أنا أقول بما يقول به إمام أهلِ السنة والجماعة أحمد بن حنبل : إن الله استوى على العرش ، وإن له يدًا ، وإن له وجهًا )
  • Akan tetapi banyak pengikutnya masih mengikuti madzhab Kullabiyyah; madzhab awal imam Asy’ari yang sangat terkenal. Adapun setelah rujuknya imam Asy’ari ke ahlussunnah ahli hadits maka menisbatkan madzhab ini ke beliau adalah satu kezhaliman.
Oleh karena itu saya menulis buku: abul Hasan al-Asy’ari imam yang terzhalimi.
هذه – تقريبًا – أصول الفرق على الترتيب :
أولاً :”القدرية ثم :”الشيعة ثم:”الخوارج ثم : “الجهمية .
هذه أصول الفرق . وتفرقت بعدها فرق كثيرة لا يحصيها إلا الله ، وصنفت في هذا كتب ، منها :
• كتاب : ” الفَرْق بين الفِرَق ” للبغدادي .
• كتاب : ” المِلل والنِّحَل ” لمحمد بن عبد الكريم الشهرستاني .
• كتاب : ” الفِصَل في المِلل والنِّحَل ” لابن حزم .
• كتاب : ” مقالات الإسلاميين واختلاف المصلين ” لأبي الحسن الأشعري .



            Daftar aliran sesat / sempalan di indonesia.
Berikut ini aliran sesat, 14 yang pertama adalah putusan Mui sejak 1971 hingga 2007, kemudian kita lengkapi dengan tulisan bapak Amin Djamaluddin ketua LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) yang juga anggota Komisi Pengkajian dan Pengembangan di MUI (Majelis Ulama Indonesia) hingga no. 25, selebihnya adalah dari sumber lain..
  1. Syiah
    Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 merekomendasikan tentang faham Syi’ ah
    sebagai berikut :
    Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu diantaranya:
    • Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
    • Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
    • Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
    • Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan ummat.
    • Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).
    • Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (Pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada ummat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.[17]

  1. Ahmadiyyah Qadyaniyyah
    • Pendiri : Mirza Ghulam Ahmad
    • Aktif : Sejak 1889 di Pakistan, masuk Indonesia 1924.
    • Menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi.
    • Ditetapkan sebagai Jama’ah di luar Islam dalam Munas II 1980, Munas VII 2005

  1. Islam Jamaah
    • Pendiri : Nur Hasan Ubaidah
    • Aktif : 1970-an
    • Dilarang pemerintah pada 1971
    • Aliran ini berubah nama menjadi Lemkari dan Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII) pada 1991
    • Menganggap musyrik umat di luar Islam Jamaah
    • Pakaian dan tubuh yang tersentuh umat lain harus disucikan.
    • Tidak mau shalat bersama umat di luar kelompok

  1. Darul Arqam
    Fatwa MUI tahun 1994 mendukung sepenuhnya Keputusan MUI Daerah Istimewa Aceh, MUI tingkat I Sumsel, MUI tingkat I Riau diperkuat dalam silaturrahim Nasional di Pekan Baru 1994 yang intinya Darul Arqam adalah ajaran yang menyimpang dari aqidah Islam.
  2. Aliran Yang Menolak Sunnah / Hadits Rasul
    Fatwa tahun 1983 menyatakan aliran ini adalah sesat dan menyesatkan dan berada di luar Agama Islam.
  3. Jama’ah Khalifah Dan Baiat
    Fatwa 1987 menyatakan bahwa di kalangan umat Islam ada keyakinan dan pemahaman agak menyimpang, seperti wajib hukumnya baiat kepada Imam Jamaah Muslimin Hizbullah.
  4. Pendangkalan Agama Dan Penyalahguanaan Dalil
    Fatwa tahun 1980, setiap usaha pendangkalan agama dan penyalahgunaan dalil-dalil adalah merusak kemurnian dan kemantapan hidup beragama. Oleh akrena itu MUI bertekad menanganinya secara serius dan terus menerus.
  5. Malaikat Jibril Mendampingi Manusia
    Fatwa tahun 1997 : MEMUTUSKAN
    Memfatwakan :

    Doa Keyakinan atau akidah tentang malaikat, termasuk malaikat Jibril, baik mengenai sifat dan tugasnya harus didasarkan pada BIDANG AQIDAH DAN ALIRAN KEAGAMAAN HIMPUNAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA 75 keterangan atau penjelasan dari wahyu (Al-Qur’an dan Hadis). Tidak ada satupun ayat maupun hadis yang menyatakan bahwa malaikat Jibril masih diberi tugas oleh Allah untuk menurunkan ajaran kepada umat manusia, baik ajaran baru atau ajaran yang bersifat penjelasan terhadap ajaran agama yang telah ada. Hal ini karena ajaran Allah telah sempurna. Pengakuan seseorang bahwa dirinya didampingi dan mendapat ajaran keagamaan dari malaiakt Jibril bertentangan dengan Al-Qur’an. Oleh karena itu, pengakuan itu dipandang sesat dan menyesatkan.
    Menghimbau kepada :
    1. Ibu Lia Aminudin (dan jama’ahnya), dan orang lain yang memiliki keyakinan serupa, yakni keyakinan bahwa dirinya mendapat ajaran agama dari malaikat Jibril, agar kembali dan mendalami ajaran Islam, terutama dalam bidang akidah, dengan memahami dan mempelajari al-Qur’an dan hadis kepada ulama, dan menurut kaidah-kaidah yang telah dirumuskan dan diakui kebenarannya oleh para ulama sebagai pedoman dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadis.
    2. Masyarakat umat Islam agar berhati-hati dan tidak mengikuti akidah yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.
    3. Majelis Ulama Indonesia bersedia memberikan bimbingan dan pengarahan kepada Ibu Lia Aminudin dan jama’ahnya, serta orang lain yang memiliki keyakinan serupa.
    4. Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan bila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya[18].
  1. Al-Qiyadah Al-Islamiyah
    • Pemimpin : Ahmad Mushaddeq
    • Aktif: Sejak 2001
    • Fatwa sesat MUI: 2007
    • Tidak menjalankan rukun Islam: salat sekali sehari hanya malam hari, tidak wajib puasa, zakat, haji
    • Menganggap musyrik orang di luar Al-Qiyadah
    • Punya rasul baru : Ahmad Mushaddeq bergelar Almasih Almaw’ud
    • Syahadat baru : Ashadu ala Illa Ha Ilallah, Wa asyhadu anna Almasih Almaw’ud Rasulullah
  1. Shalawat Wahidiyyah
    Fatwa MUI Kab. Tasikmalaya, Jabar 2007 menyatakan bahwa paham yang mengkultuskan secara bewrlebihan pendiri shalawat Wahidiyyah sehingga merusak aqidah[19]. “Hasil pembahasan serta kajian yang dilakukan oleh Komisi Fatwa MUI
    Kab. Tasikmalaya, menyatakan aliran atau paham Wahidiyah, adalah sesat
    serta menyesatkan,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kab. Tasikmalaya,
    K.H. Dudung Abd. Salam, kepada pers, Rabu (30/5), di kantor MUI
    Tasikmalaya.
  2. Tarekat Babur Ridha
    Fatwa MUI Sumut 2007 menfatwakan sesatnya tarekat Babur Ridho pimpinan Hirzi Nuzlan yang mengaku menerima bisikan Jibril.
  3. Lembaga a Soul Training
    Fatwa MUI Sumut 2007 menilai sesat paham LST karena hanya menerima Al-Qur`an dan mencaci maki ulama sebagai penyebab kerusakan umat.
  4. Tarekat Tajul Khalwatiyyah Wassamaniyyah
    Fatwa MUI Manggarai NTT 2007 menilai tarekat ini sesat menyesatkan karena menyimpang dari Al-Quran dan sunnah seperti umur bisa dipanjangkan oleh tuan guru, yang tidak ikut kelompok mereka kafir dan teman setan, malaikat tidak mampu mencabut nyawa mereka.
  5. Pengajian Al-Haq
    Fatwa MUI Pematang Siantar mengelompkkan pengajian ini ke dalam golongan inkar sunnah Rasul.
  6. Ajaran Teguh Esa
  7. Aliran Pembaru Isa Bugis
  8. Gerakan Lembaga Kerasulan
  9. Tarekat Naqsyabandiyyah Prof Kadirun Yahya
  10. Salamullah (Komunitas Lia Eden)
    • Pemimpin : Lia Aminudin
    • Aktif: Sejak 1995
    • Fatwa sesat MUI: 1997
    • Lia mengaku bertemu Jibril, kemudian sebagai Bunda Maria, dan akhirnya sebagai Jibril
    • Mengangkat anaknya, Ahmad Mukti, sebagai Nabi Isa
    • Mempunyai kitab suci sendiri
  11. NII Ma’had Zaetun
  12. Ajaran Bijak Bestari
  13. Ajaran Faham Bahai
  14. Agama Millah ibrahim
  15. Tarekat Naqsyabandi Haqqani
  16. Sekularisme Pluralisme Dan Liberalisme
  17. Jemaah Ngaji Lelaku
    • Pemimpin : Yusman Roy
    • Aktif: Sejak 2005
    • Fatwa sesat MUI: 2005
    • Shalat dalam dua bahasa
  18. Negara Islam Indonesia
    • Fatwa sesat MUI: 2003
    • Mengganti shalat wajib dengan mencari anggota baru
    • Menghalalkan segala cara untuk bisa berinfak ke organisasi
    • Mengancam anggota yang mundur
  19. Al-Quran Suci
    • Fatwa sesat MUI: belum ada
    • Tidak mengakui Hadis
    • Tidak melakukan kewajiban dalam rukun Islam
    • Memisahkan jemaah dari keluarganya
  20. Ahmad Sayuti Sang Nabi Baru asal Bandung
  21. Ahmad Mushaddeq
  22. Jamaah An Nadzir
  23. Islam-Sejati
                                                              Maraji’:
Mengawal Aqidah Umat, Fatwa MUI Tentang Aliran-Aliran Sesat di Indonesia, Oleh MUI, terbitan Sekretaris MUI Jkt.
Majalah Mimbar Ulama, edisi 341 R. Awal 1429.
Bunga Rampai Kajian Islam, KH. Abdusshomad buchori (Ketua MUI Jatim), MUI Jatim, I/2009.
Kriteria Aliran Sesat dan Antisipasinya, Oleh DR.H. Ramli Abdul Wahid, MA (Ketua Komisi Dikbud dan Anggota Komisi Fatwa MUI Tk. I Sumut.)
Makalah Suburnya Aliran Sesat di Indonesia, Hartono Ahmad Jaiz
Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2008).
Capita Selekta; Aliran-aliran sempalan di Indonesia (1980-2010), M. Amin JDjamaluddin, LPPI, cet. 3. 2010.
The Wahid Institut, Edisi III/Thn. I/Oktober 2007
Selengkapnya...

AMBISI MINTA JABATAN MEMBAWA KEHINAAN DI AKHERAT

 Oleh  ALI WAFA  ABU SULTHON




Ambisinya  seseorang terhadap jabatan menutupi akal sehatnya bahkan meredupkan keimanannya kepada Allah Azza wa jalla dimana banyak orang  mengejar jabatan dengan cara-cara yang diharamkan agama, seperti suap, menzhalimi kompetitornya, membohongi rakyatnya atau yang lainnya. Sangat mungkin mereka yang melakukannya mengetahui betul bahwa itu semua diharamkan dan dilarang oleh agama. Lalu mengapa mereka tetap melakukannya? Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah Maha Melihat? Apakah mereka tidak meyakini bahwa kelak mereka akan ditanya oleh Allah azza wa jalla? Ironis dan menyedihkan .
Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam  tidaklah memberikan jabatan kepada orang-orang yang memintanya karena itu adalah tanda ambisiusnya, yang kebanyakan nafsunya melebihi kemampuannya . Al Hafizh Ibnu hajar mengatakan bahwa orang  yang meminta jabatan dan diberikan kepadanya maka dia tidak akan dibantu dikarenakan ambisinya. Arti dari itu adalah bahwa meminta apa-apa yang berkaitan dengan hukum adalah makruh, termasuk didalam imaroh adalah hakim, pengawas dan lainnya. Dan bahwasanya siapa yang berambisi dengan hal itu tidaklah akan dibantu.
Selanjutnya Al Hafizh mengutip hadits Abi Musa,”Sesungguhnya kami tidaklah mengangkat pemimpin dari orang yang ambisi” karena itu selanjutnya beliau mengungkapkan kata “pertolongan”. Maka sesungguhnya siapa yang tidak mendapatkan pertolongan dari Allah didalam amalnya maka amal itu tidaklah cukup oleh karena itu tidak sepatutnya menyambut permintaannya. Sebagaimana diketahui bahwa kepemimpinan tidaklah kosong dari kesulitan. Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan pertolongan maka ia akan mendapat kesulitan dan kerugian di dunia dan akherat. Dan barangsiapa yang memiliki akal maka ia tidaklah bersikeras untuk memintanya akan tetapi jika ia memiliki kemampuan dan diberikan tanpa memintanya maka sungguh Rasulullah Shollallahnalaihi wasallam  menjanjikan pertolongan-Nya dan didalamnya terdapat keutamaan.
Dari Sahabat Abu Dzar Al Ghifari radliallahu ‘anhu. Ia berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaanku tersebut, beliau menepuk pundakku seraya bersabda:
“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR. Muslim no. 1825)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah, dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim.” (HR. Muslim no. 1826)
Al-Imam Nawawi rahimahullah membawakan kedua hadits Abu Dzar di atas dalam kitab beliau Riyadlus Shalihin, bab “Larangan meminta jabatan kepemimpinan dan memilih untuk meninggalkan jabatan tersebut jika ia tidak pantas untuk memegangnya atau meninggalkan ambisi terhadap jabatan”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan kepada Abdurrahman bin Samurah :
يَا عَبْدَ الرَّحْمنِ بن سَمُرَةَ لاَ تَسْألِ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَها عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأََلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْها
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).”
Hadits ini diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 7146 dengan judul “Siapa yang tidak meminta jabatan, Allah akan menolongnya dalam menjalankan tugasnya” dan no. 7147 dengan judul “Siapa yang minta jabatan, akan diserahkan padanya (dengan tidak mendapat pertolongan dari Allah dalam menunaikan tugasnya)”.
Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 1652 yang diberi judul oleh Al-Imam An-Nawawi “Bab Larangan meminta jabatan dan berambisi untuk mendapatkannya”.
(dalam Penjelasan Sahih Muslim, jilid 12, halaman 210)
Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah: “Seseorang yang meminta jabatan seringnya bertujuan untuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, menguasai mereka, memerintahkannya dan melarangnya. Tentunya tujuan yang demikian ini jelek adanya. Maka sebagai balasannya, ia tidak akan mendapatkan bahagiannya di akhirat. Oleh karena itu dilarang seseorang untuk meminta jabatan.” (Syarh Riyadlus Shalihin, 2/469)
Berkata Al Muhallab sebagaimana dinukilkan dalam Fathul Bari (13/135): “Ambisi untuk memperoleh jabatan kepemimpinan merupakan faktor yang mendorong manusia untuk saling membunuh. Hingga tertumpahlah darah, dirampasnya harta, dihalalkannya kemaluan-kemaluan wanita (yang mana itu semuanya sebenarnya diharamkan oleh Allah) dan karenanya terjadi kerusakan yang besar di permukaan bumi.”
Seseorang yang menjadi penguasa dengan tujuan seperti di atas, tidak akan mendapatkan bagiannya nanti di akhirat kecuali siksa dan adzab. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi dan tidak pula membuat kerusakan. Dan akhir yang baik itu hanya untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashshash: 83)
Al-Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan: “Allah ta`ala mengabarkan bahwasanya negeri akhirat dan kenikmatannya yang kekal yang tidak akan pernah lenyap dan musnah, disediakan-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, yang tawadhu` (merendahkan diri), tidak ingin merasa tinggi di muka bumi yakni tidak menyombongkan diri di hadapan hamba-hamba Allah yang lain, tidak merasa besar, tidak bertindak sewenang-wenang, tidak lalim, dan tidak membuat kerusakan di tengah mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/412)

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah: “Makna ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Dzar adalah beliau melarang Abu Dzar menjadi seorang pemimpin karena ia memiliki sifat lemah, sementara kepemimpinan membutuhkan seorang yang kuat lagi terpercaya. Kuat dari sisi ia punya kekuasaan dan perkataan yang didengar/ ditaati, tidak lemah di hadapan manusia. Karena apabila manusia menganggap lemah seseorang, maka tidak tersisa kehormatan baginya di sisi mereka, dan akan berani kepadanya orang yang paling dungu sekalipun, sehingga jadilah ia tidak teranggap sedikitpun. Akan tetapi apabila seseorang itu kuat, dia dapat menunaikan hak Allah, tidak melampaui batasan-batasan-Nya, dan punya kekuasaan. Maka inilah sosok pemimpin yang hakiki.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/472)
Memang jabatan adalah sesuatu yang sangat menggiurkan setiap manusia. Karena disitulah terdapat kamasyhuran, ketenaran, kehormatan dan kemapanan sosial ekonomi. Karena itu wajarlah ketika Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa tidaklah dua ekor srigala lapar yang dilepas kepada kerumunan kambing lebih merusak agama daripada ambisi seseorang terhadap harta dan jabatan.” (HR. Tirmidzi) dan Tirmidzi mengatakan,”ini adalah hadits hasan shahih)

Berbeda dengan kisah Nabi Yusuf Alaihissalam  sebagaimana penjelasan Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani tentang Kisah Nabi Yusuf  dimana Orang yang berdalil dengan kisah masuknya Nabi Yusuf dalam siyasah (pemerintahan) telah tenggelam dalam kesalahan. Yaitu ketika beliau mengatakan:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Berkata Yusuf “Jadikanlah aku bendaharawan negara Mesir sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan"..” (Yusuf: 55)
Padahal beliau tidak memasuki tugas ini kecuali setelah mendapatkan persaksian dari Allah  Azza wa jalla. Tertulis pada persaksian tersebut:
“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi sangat berpengetahuan.” (Yusuf: 55)
Ahli balaghah (sastra Arab) dapat membedakan antara kata الْحَافِظُ (yang berarti menjaga) dengan kata الْحَفِيظُ (yang sangat pandai menjaga), juga antara kata الْعَالِمُ(yang berilmu) dengan kata الْعَلِيمُ (yang sangat berpengetahuan). Maka perhatikan hal ini, karena sesungguhnya ini termasuk rahasia-rahasia Al-Qur`an yang penuh hikmah.
Sebagaimana diherankan dari yang lain juga, yang membolehkan diri mereka menerima jabatan politik masa ini –bersamaan dengan apa yang ada di dalamnya berupa sistem parlemen kafir atau jahat– berdalil dengan perbuatan Nabi Yusuf alaihissalam, sembari melalaikan bahwa Nabi Yusuf alaihissalam tidak memintanya. Namun raja itulah yang menawarkannya kepada beliau. Beliau alaihissalam juga tidak menerimanya melainkan ketika raja tersebut menjamin keamanan dan kebebasan baginya. Sehingga tidak ada tekanan, atau ancaman, atau mengorbankan agama, atau tarik ulur, atau tawar menawar, atau adu argumentasi. Oleh karena itu, perhatikan urutannya dalam firman Allah Azza wa Jalla:
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi sangat berpengetahuan’.” (Yusuf: 54-55)
وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.( Yusuf – 56 )
Bila kita mengalah (pada anggapan mereka yakni beliau minta jabatan, pen) maka kamipun akan mengatakan sebagaimana yang dinyatakan ulama ushul fiqih, ‘syariat umat sebelum kita bukanlah syariat bagi kita pada perkara yang menyelisihi syariat kita’. Padahal di sini syariat kita menyelisihinya, karena kita dilarang untuk minta jabatan. Seperti dalam hadits Abdurrahman bin Samurah, ia berkata: Rasulullah Shollallahu alahi wasallam  bersabda kepadaku:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan, karena jika engkau diberi karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong). Namun jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong” (Muttafaqun ‘alaih)
Kami akan menjawab bahwa Nabi Yusuf alahi ssalam telah disebutkan kesuciannya oleh Allah Tabaroka wa Ta’ala  dan tidak bekerja kecuali dengan bimbingan Allah. Yakni, semua manusia berlaku padanya kaidah “jika engkau diberi kepemimpinan karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak ditolong) ….” kecuali yang diberi predikat kesucian oleh wahyu yang tidak akan salah. Adapun mereka yang sok pandai pada masa ini, mereka tunduk pada kondisi undang-undang pada hari ini ataupun besok. Bahkan sebelum melaksanakan tugas politik tersebut, mereka harus bersumpah untuk menghormati undang-undang. Dan ini telah terjadi, bahkan kami tidak tahu bahwa selainnya juga telah terjadi. Maka sungguh ajaib orang yang menyingkirkan kekafiran dengan kekafiran.
Maka tersimpulkan dari ketergesaan ini lima jawaban:
1. Nabi Yusuf alaihissalam  tidak meminta kepemimpinan, namun ditwarkan kepada beliau, sebagaimana ditunjukkan oleh susunan ayat. Maksimal yang ada dalam ucapan beliau
“Jadikan aku bendaharawan negeri (Mesir)” adalah keterangan tentang spesialisasinya dan pilihannya.
2. Beliau aman dari tekanan peraturan (negara) dan dipersilakan untuk mengamalkan syariat Islam. Dua hal ini hanyalah sebuah khayalan dalam realita aturan-aturan di muka bumi masa ini.
3. Bahwa beliau mendapat persaksian kesucian di mana beliau juga seorang Rasul. Sehingga tidak dikhawatirkan pada beliau apa yang dikhawatirkan pada orang lain.
Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sirin Rahimahullah , bahwaAmiril Mu’minin Umar radhiyallahu anhu  menugaskan   Abu Hurairah Radhiyallahu anhu  sebagai gubernur di daerah Bahrain. Lalu Abu Hurairah radhiyallahuanhu  datang membawa uang 10.000. Maka Umar mengatakan kepadanya: “Apakah engkau peruntukkan harta ini untuk kepentingan pribadimu, wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya?!”
Maka Abu Hurairah Radhiyallahu anhu  menjawab: “Aku bukan musuh Allah ataupun musuh kitab-Nya, akan tetapi justru musuh yang memusuhi keduanya.”
Umar  Radhiyallahu anhu menukas: “Lalu darimana hartamu ini?”
“Itu adalah kuda yang berkembang biak, dan hasil kerjaan budakku, serta pemberian yang datang beberapa kali,” jawab Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
Mereka pun memeriksanya. Ternyata mereka mendapatkannya seperti apa yang dikatakan Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . Setelah hal itu berlalu, Umar radhiyallahu anhu  memanggil Abu Hurairah radhiyallahuanhu untuk ditugaskan kembali akan tetapi beliau menolak. Maka Umar radhiyallahuanhu  berkata: “Apakah kamu tidak suka jabatan ini, padahal telah memintanya orang yang lebih baik darimu, Yusuf  Alaihisalam ?”
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu menjawab: Yusuf adalah seorang nabi, putra seorang nabi, dan cucu seorang nabi. Sedangkan saya, Abu Hurairah, putra seorang ibu yang kecil. Dan aku khawatir tiga tambah dua (perkara -pent).”
Umar Radhiyallahuanhu berkata: “Tidakkah kamu katakan lima saja?”
Abu Hurairah radhiyallahu anhu menjawab: “Saya khawatir berkata tanpa ilmu, memutuskan tanpa kesabaran dan pikir panjang, takut punggungku dicambuk, hartaku diambil dan kehormatanku dicela.”
4. Syariat umat sebelum kita bukanlah syariat bagi kita pada perkara yang menyelisihi syariat kita. Dalam hal ini, syariat kita telah menyelisihinya.
5. Nabi Yusuf alaihissalam melakukan apa yang beliau lakukan pada tugasnya tersebut dengan posisi beliau sebagai seorang rasul. Seandainya pun seseorang diperbolehkan mengikuti beliau dalam urusan itu, maka pewarisnya secara syar’i adalah seorang mujtahid. Ibnu Abdil Bar berkata: “Bila yang demikian itu (menyebut keahliannya dalam kondisi terpaksa -pent), maka boleh bagi seorang ulama saat itu untuk memuji dirinya dan mengingatkan tentang kedudukannya, maka saat itu berarti dia membicarakan nikmat Allah pada dirinya dalam rangka mensyukurinya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm wa Fadhlihi, 1/176).semoga kita dilindungi oleh Alloh Azza wa jalla dari perkara – perkara jeleknya meminta jabatan
Wallahu a’lam bisshowab





Selengkapnya...

DAJJAL SUDAH ADA DI SEBUAH PULAU

 

Asy-Sya’bi rahimahullahu mengatakan kepada Fathimah bintu Qais radhiyallahu ‘anha: “Beri aku sebuah hadits yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak kamu sandarkan kepada seorang pun selain beliau.” Fathimah mengatakan: “Jika engkau memang menghendakinya akan aku lakukan.” “Ya, berikan aku hadits itu,” jawab Asy-Sya’bi.
Fathimah pun berkisah: “…Aku mendengar seruan orang yang berseru, penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyeru ‘Ash-shalatu Jami’ah’. Aku pun keluar menuju masjid lantas shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku berada pada shaf wanita yang langsung berada di belakang shaf laki-laki. Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya maka beliau duduk di mimbar dan tertawa seraya mengatakan: ‘Hendaknya setiap orang tetap di tempat shalatnya.’ Kemudian kembali berkata: ‘Apakah kalian tahu mengapa aku kumpulkan kalian?’ Para sahabat menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: ‘Sesungguhnya –demi Allah-, aku tidak kumpulkan kalian untuk sesuatu yang menggembirakan atau menakutkan kalian. Namun aku kumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari. Dahulu ia seorang Nasrani lalu datang kemudian berbai’at dan masuk Islam serta mengabariku sebuah kisah, sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal.
Ia memberitakan bahwa ia naik kapal bersama 30 orang dari Kabilah Lakhm dan Judzam. Lalu mereka dipermainkan oleh ombak hingga berada di tengah lautan selama satu bulan. Sampai mereka terdampar di sebuah pulau di tengah lautan tersebut saat tenggelamnya matahari. Mereka pun duduk (menaiki) perahu-perahu kecil. Setelah itu mereka memasuki pulau tersebut hingga menjumpai binatang yang berambut sangat lebat dan kaku. Mereka tidak tahu mana qubul dan mana dubur-nya, karena demikian lebat bulunya. Mereka pun berkata: ‘Apakah kamu ini?’ Ia (binatang yang bisa berbicara itu) menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Mereka mengatakan: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia (justru mengatakan): ‘Wahai kaum, pergilah kalian kepada laki-laki yang ada rumah ibadah itu. Sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian.’ Tamim mengatakan: ‘Ketika dia menyebutkan untuk kami orang laki-laki, kami khawatir kalau binatang itu ternyata setan.’ Tamim mengatakan: ‘Maka kami pun bergerak menuju kepadanya dengan cepat sehingga kami masuk ke tempat ibadah itu. Ternyata di dalamnya ada orang yang paling besar yang pernah kami lihat dan paling kuat ikatannya. Kedua tangannya terikat dengan lehernya, antara dua lututnya dan dua mata kakinya terikat dengan besi. Kami katakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Kalian telah mampu mengetahui tentang aku. Maka beritakan kepadaku siapa kalian ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami ini orang-orang dari Arab. Kami menaiki kapal ternyata kami bertepatan mendapati laut sedang bergelombang luar biasa, sehingga kami dipermainkan ombak selama satu bulan lamanya, sampai kami terdampar di pulaumu ini. Kami pun naik perahu kecil, lalu memasuki pulau ini dan bertemu dengan binatang yang sangat lebat dan kaku rambutnya. Tidak diketahui mana qubul-nya dan mana duburnya karena lebatnya rambut. Kamipun mengatakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Kamipun bertanya lagi: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia malah menjawab, pergilah ke rumah ibadah itu sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian. Maka kami pun segera menujumu dan kami takut dari binatang itu. Kami tidak merasa aman kalau ternyata ia adalah setan.’
Lalu orang itu mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang pohon-pohon korma di Baisan.’
Kami mengatakan: ‘Tentang apanya engkau meminta beritanya?’
‘Aku bertanya kepada kalian tentang pohon kormanya, apakah masih berbuah?’ katanya.
Kami menjawab: ‘Ya.’
Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir ia tidak akan mengeluarkan buahnya. Kabarkan kepadaku tentang danau Thabariyyah.’
Kami jawab: ‘Tentang apa engkau meminta beritanya?’
‘Apakah masih ada airnya?’ jawabnya.
Mereka menjawab: ‘Danau itu banyak airnya.’
Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir airnya akan hilang. Kabarkan kepadaku tentang mata air Zughar1.’
Mereka mengatakan: ‘Tentang apanya kamu minta berita?’
‘Apakah di mata air itu masih ada airnya? Dan apakah penduduknya masih bertani dengan airnya?’ jawabnya.
Kami katakan: ‘Ya, mata air itu deras airnya dan penduduknya bertani dengannya.’ Ia mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang Nabi Ummiyyin, apa yang dia lakukan?’
Mereka menjawab: ‘Ia telah muncul dari Makkah dan tinggal di Yatsrib (Madinah).’
Ia mengatakan: ‘Apakah orang-orang Arab memeranginya?’
Kami menjawab: ‘Ya.’
Ia mengatakan lagi: ‘Apa yang dia lakukan terhadap orang-orang Arab?’ Maka kami beritakan bahwa ia telah menang atas orang-orang Arab di sekitarnya dan mereka taat kepadanya.
Ia mengatakan: ‘Itu sudah terjadi?’
Kami katakan: ‘Ya.’
Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya baik bagi mereka untuk taat kepadanya. Dan aku akan beritakan kepada kalian tentang aku, sesungguhnya aku adalah Al-Masih. Dan hampir-hampir aku diberi ijin untuk keluar sehingga aku keluar lalu berjalan di bumi dan tidak ku tinggalkan satu negeri pun kecuali aku akan turun padanya dalam waktu 40 malam kecuali Makkah dan Thaibah, keduanya haram bagiku. Setiap kali aku akan masuk pada salah satunya, malaikat menghadangku dengan pedang terhunus di tangannya, menghalangiku darinya. Dan sesungguhnya pada setiap celahnya (dua kota itu) ada para malaikat yang menjaganya.’
Fathimah mengatakan: ‘Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan menusukkan tongkatnya di mimbar sambil mengatakan: ‘Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah2, yakni Al-Madinah. Apakah aku telah beritahukan kepada kalian tentang hal itu?’
Orang-orang menjawab: ‘Ya.’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya cerita Tamim menakjubkanku, di mana sesuai dengan apa yang kuceritakan kepada kalian tentangnya (Dajjal), serta tentang Makkah dan Madinah. Ketahuilah bahwa ia berada di lautan Syam atau lautan Yaman- tidak, bahkan dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur -dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah timur-.’
Fathimah mengatakan: “Ini saya hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(HR. Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrathis Sa’ah, Bab Qishshatul Jassasah)
 
Selengkapnya...

ISTIQOMAH MENUJU KERIDHAAN ALLOH AZZA WA JALLA

 oleh Ali Wafa Abu Sulthon 



Istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.
Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)
Yang dimaksud dengan istiqomah di sini terdapat tiga pendapat di kalangan ahli ulama tafsir :
  1. Istiqomah di atas Tauhid, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakr Ash Shidiq dan Mujahid,
  2. Istiqomah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Al Hasan dan Qotadah,
  3. Istiqomah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput, sebagaimana dikatakan oleh Abul ‘Aliyah dan As Sudi 
             ( Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 5/304, Mawqi’ At Tafasir)                                                                                                                  
Dan sebenarnya istiqomah bisa mencakup tiga tafsiran ini karena semuanya tidak saling bertentangan.
Ibnu Abbas rodhiallohu 'anhu menyatakan bahwa istiqomah adalah menjalankan faroidh.
Abul 'Aliyah rohimahulloh memberikan makna istiqomah dengan ikhlas dalam beramal dan menjalankan syariat agama.
Qotadah rohimahulloh mengemukakan istiqomah dengan ketaatan kepada Alloh. (Jami'ul Ulum wal hikam, Ibnu Rojab, Mu'assasatur Risaalah-Riyadh, V.10 - 2004 M: 1/508)
Walaupun para ulama' salaf berbeda-beda dalam memaknai istiqomah, akan tetapiikhtilaf mereka bukanlah saling berlawanan (Tudhadh), melainkan ikhtilaf yang saling menguatkan antara yang satu dengan yang lainnya (Tanawwu'). Sehingga Imam Ibnu Rojab setelah menukilkan perkataan para ulama', beliau menyimpulkan; Istqomah adalah prilaku yang lurus, agama yang berdiri tegak, tidak condong kekanan atau kekiri, yang meliputi seluruh amal ketaatan secara lahir maupun batin, dan meninggalkan seluruh larangan (Alloh) secara lahir dan batin pula. (Jami'ul ulum wal hikam, Ibnu Rojab Al Hambali, 1/510)
Suatu hari seorang sahabat yang mulia meminta petunjuk kepada Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- dalam urusan agamanya. Beliau adalah Sufyan bin Abdulloh rodhiallohu 'anhu.
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ :قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ بَعْدَكَ قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Dari Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqofi rodhiallohu 'anhu Beliau berkata: "Wahai Rosululloh, katakanlah kepadaku dalam ajaran Islam ini satu ucapan, sehingga aku tidak bertanya lagi kepada selain engkau tentang itu". Abu Mu'awiyah berkata: "(Bertanya kepada) orang setelah engkau". Beliau menjawab: "Katakanlah, Aku beriman pada Alloh, kemudian istiqomahlah (diatas jalan-Nya)." ( HR. Muslim: 55, Tirmidzy: 2334, Ibnu Majah: 3962, Ahmad: 14869 dan yang lainnya)
Tips jitu Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam yang diberikan kepada Sufyan bin Abdulloh dan seluruh umatnya, adalah bukan sekedar omong kosong. Karena beliau tidak berbicara dari hawa nafsu, melainkan wahyu dari Alloh ta'ala. Ibnu Rojab Al Hambali berkata: "Wasiat Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam ini meliputi seluruh aspek ajaran agama. (Jami'ul ulum wal hikam, Ibnu Rojab Al Hambali, 1/510)
Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsimin rohimahulloh menerangkan hadits diatas bahwa (قُلْ آمَنْتُ بِاللَّه ) adalah beriman kepada Alloh di dalam hati, dan ( ثُمَّ اسْتَقِمْ ) adalah istiqomah dengan perbuatan. Maka kadar keimanan seseorang kepada Alloh ta'ala dapat diukur dengan ketaatan kepada-Nya. Kemudian beliau berkata: "Bagi siapa saja yang dapat menerapkan wasiat tersebut dalam hidupnya, maka dia orang yang bahagia di dunia dan akhirat." (Syarhul Arba'in An Nawawiyyah, Syeikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin, Daar Al 'Aqidah-Cairo, 2000 M: 74)
Dalam Al qur'an dijelaskan balasan bagi orang yang bisa beristiqomah di atas jalan-Nya. Alloh ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ . نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Alloh" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Alloh kepadamu. Kami adalah wali kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan bagi kalian apa saja yang kalian inginkan di dalamny. Sebagai hidangan dari yang maha pengampun lagi maha penyayang." (QS. Fushshilat: 30-32)
Dalam ayat lain Alloh ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ .
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Alloh", Kemudian mereka tetap istiqamah Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
Mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang Telah mereka kerjakan." (QS. Al Ahqaaf: 13-14)
Buah dari istiqomah sangatlah manis, yaitu tidak akan merasakan sedih dan takut dalam hidup ini, dan di akhirat mendapatkan balasan syurga atas apa yang telah diamalkan. Bila dicermati lebih dalam, apa tujuan kerja keras manusia di dunia ini?. Dengan mengorbankan waktu dan menempuh jarak yang panjang, memeras keringat dan fikiran?. Ternyata yang dicari tidak lebih dari sekedar keinginan rasa nyaman dalam hidup, rasa aman dan tidak takut, tentram tanpa gangguan apapun. Alloh ta'alatelah memberikan jalan keluar yang sangat mudah untuk dilaksanakan. Bagi yang diberi jalan kemudahan oleh-Nya, akan sangat mudah untuk menjalankannya. Dan sebaliknya akan sangat sulit untuk orang-orang yang membangkang.
Bila istiqomah adalah komitmen dalam ajaran Islam secara kaaffah, maka harus benar-benar diperhatikan rambu-rambu yang ada di areanya. Garis-garis merah melintang adalah larangan, haruslah ditinggalkan secara keseluruhan. Adapun kewajiban yang itu merupakan perintah, harus dijalankan sesuai dengan aturan yang membawa syariat ini. Tidak boleh menyimpang, mendahului atau bahkan melawan arus. Jika itu semua dilanggar maka jaminan kenyamanan hidup baik di dunia ataupun di akhirat dengan sendirinya akan gugur. Karena istiqomah sudah tidak lagi melekat erat pada dirinya.
Salah satu bentuk dari istiqomah adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rosulullohshollallohu 'alaihi wasallam:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang paling rutin dilakukan walaupun itu sedikit." (HR. Bukhori: 5983, Muslim: 1303)
'Aisyah rodhiallohu 'anha menceritakan tentang amal ibadah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasalam:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ
"Dahulu Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam apabila melakukan satu amalan, beliau menekuninya". (HR. Muslim: 1253, Abu Daud: 1161)
Untuk senantiasa istiqomah di atas ajaran yang mulia ini tidaklah mudah, bahkan sangat susah dan payah. Karena iblis dan bala tentaranya tidak akan membiarkan itu terjadi pada hamba-hamba Alloh di dunia ini. Mereka terus akan menggiring anak cucu Adam untuk diajak masuk ke dalam jurang kesengsaraan paling dalam sebagai bahan bakarnya. Tentunya dengan berbagai macam cara, sehingga dapat mempengaruhi mereka. Banyak godaan, banyak ujian, yang merupakan kembang dalam taman kehidupan manusia. Karena Alloh ta'ala menciptakan manusia untuk diuji; siapakah yang paling baik amalannya. Maka jika sedikit saja tergiur dengan tipu daya seitan tentunya akan tercebur ke dalam lautan kesengsaraan tak bertepi, terombang ambing dalam badai nista.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membantu diri dan membentengi jiwa agar senantiasa dapat beristiqomah diatas jalan-Nya, antara lain adalah:
1.  Mempelajari ajaran agama Islam sesuai dengan tuntunannya, sebelum menjalankannya.
Inilah yang disinggung oleh Imam Bukhori dalam kitab shohih beliau "Bab al 'ilmu qobla Al qouli wal 'amal." Islam adalah jalan yang lurus, dan ilmu tentangnya adalah cahaya, sedangkan kebodohan adalah kegelapan. Tidak mungkin orang akan bisa berjalan dengan stabil bila jalan tersebut gelap gulita. Yang ada hanyalah tersesat jalan atau terjerebab ke dalam lobang. Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam sudah mengajarkan kepada ummatnya segala sesuatu tentang agama ini, tergantung bagaimana kita umatnya mempelajarinya dan mengamalkannya. Beliau shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:
مَا بَقِيَ مِنْ شَيْءٍ يُقَرِّبُ مِنَ اْلجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
"Tidak tersisa suatu apapun yang mendekatkan diri pada syurga dan menjauhkan diri dari (siksa) neraka melainkan sudah dijelaskan pada kalian." (HR. Thobroni dan Ahmad, dinyatakan shohih oleh syeikh Al Albany dalam As Sisilah As Shohihah: 1803).
2.  Budayakan saling menasehati antar sesama, karena nasehat adalah inti dari ajaran Islam yang mulia ini.
Alloh ta'ala berfirman:
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran." (QS. Al 'Ashr: 1-3)
Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat-sahabatnya:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
"Agama adalah nasehat ." kami (Sahabat) berkata: "Nasehat untuk siapa wahai Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam?". Beliau menjawab, "Untuk Alloh, kitab-kitab-Nya, Rosul-Nya, para pemimpin kaum muslikin dan seluruh umat Islam."(HR. Muslim: 82, dari jalan Tamim Ad Dari rodhiallohu 'anhu).
Imam Nawawi rohimahulloh berkata: "Hadits ini sangatlah agung, dan padanya sumber (ajaran) Islam." (Syarhun Nawawi 'ala Muslim, Daar Ihyaa'utturots Al 'Aroby – Bairut, V.2, Th 1392 H: 2/37).
Alangkah indahnya hidup bila masing-masing individu muslim sadar akan pentingnya hal ini. Saling mengingatkan antar sesama, karena itu bukti cinta dia kepada saudaranya kerena Alloh. Dan karena manusia pada dasarnya adalah memiliki sifat salah, maka diantara hak seorang muslim yang harus dipenuhi oleh saudaranya adalah menasehati ketika dia berbuat kesalahan.
3. Hidup dalam lingkungan yang sholeh
Lingkungan yang sholeh sangat membantu seseorang di dalam mencetak dirinya sebagai seorang yang sholeh dan selalu istiqomah. Bagaimana tidak demikian?, sedang disekelilingnya adalah cermin bagi dia untuk senantiasa berkaca, apa yang kurang beres pada dirinya? Apa yang kurang pas? Apa yang kurang baik? Semua pertanyaan akan dia jawab sendiri dan akan dikembalikan pada dirinya sendiri, lalu dengan serta merta dia membenahinya. karena arus sekitar di sekeliling hidupnya sangatlah deras, dan mau atau tidak dia harus mengikutinya. Perumpamaan yang lebih sederhana daripada itu adalah, pengaruh seorang sahabat dalam hidup. Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
"Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wanginya sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau tidak sedapnya." (HR. Bukhori: 5108, Muslim: 4762)
Jika dalam persahabatan saja pengaruhnya sangat luar biasa, bagaimana dengan arus lingkungan yang sudah tentu pengaruhnya jauh lebih besar.
4. Senantiasa berdo'a kepada Alloh ta'ala.
Do'a adalah senjata paling ampuh yang dimiliki oleh seorang mukmin, sekaligus salah satu perantara untuk menunjang hidup bahagia. Karena siapapun manusianya adalah hamba yang lemah, miskin papa dan tidak memiliki daya upaya melainkan dari Alloh 'azza wajalla Sang pencipta alam semesta. Dia senantiasa akan bergantung pada-Nya dan mengharapkan belas kasih-Nya. Mengharapkan pertolongan, perlindungan, taufiq, hidayah dan apa saja yang ia butuhkan dari-Nya. Begitulah seharusnya seorang mukmin. Karena do'a merupakan ibadah yang paling agung dan inti daripada ibadah itu sendiri.
Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam mengajarkan pada kita umatnya berdoa meminta ketetapan hati dan keteguhan jiwa dalam indahnya iman. Doa yang senantiasa beliau lantunkan adalah:
ياَ مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ! ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ
"Wahai Dzat yang Maha membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu." Dan tatkala beliau shollallohu 'alaihi wasallam ditanya tentang hal tersebut, beliau menjawab: "Sesungguhnya hati anak adam berada di antara dua jari dari jari-jari Alloh Azza wajalla, jika Dia berkehendak maka Alloh akan mencondongkannya dan jika berkehendak maka Alloh akan meluruskannya." (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah. Dinukilkan oleh Syeikh Al Bani dalam As Silsilah As Shohihah: 2091)
Diriwayatkan bahwa Hasan Al Bashri rohimahulloh ketika membaca ayat ( إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) beliau berdoa: "Ya Alloh, Engkau adalah Robb kami, maka anugerahkanlah kepada kami istiqomah". (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam, Ibnu Rojab: 5/109)
Maka Istiqomah itu adalah jalan menuju Keridhaan Alloh azza wa jalla sebagaimana para Rasul  dan Ambiya’ , juga para As – Siddiqin dan Sholihin meniti jalan yang lurus dengan Istiqomah yang kokoh bagaikan Pohon yang batangnya menjulang ke Langit dan Akarnya menancap ke bumi dengan buah – buah yang bermanfaat bagi manusia , wallohu A’lam bis showab.
Selengkapnya...

Kewajiban Mengamalkan Sunnah

Translate

>